Jumat,13 Februari 2026
Pukul: 04:30 WIB

Belajar-Mengajar: Jantung Pendidikan yang Menentukan Masa Depan Bangsa

Belajar-Mengajar: Jantung Pendidikan yang Menentukan Masa Depan Bangsa

Kamis, 24 Juli 2025
/ Pukul: 16:24 WIB
Kamis, 24 Juli 2025
Pukul 16:24 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Pendidikan dikenal sebagai tulang punggung kemajuan suatu bangsa. Namun, yang menjadi jantungnya—yang benar-benar menentukan hidup atau matinya proses pendidikan—adalah aktivitas belajar dan mengajar. Ini bukan sekadar aktivitas rutin di ruang kelas, melainkan interaksi dinamis yang membentuk watak dan kecakapan generasi penerus.

 

Kelompok Mahasiswa Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) merumuskan bahwa memahami konsep dasar belajar mengajar bukan hanya penting bagi guru atau murid, tapi juga seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Lewat penelitian sederhana ini, mereka mengulas secara komprehensif empat komponen utama: hakikat belajar, peran strategis guru dalam mengajar, interaksi dalam kelas, serta faktor-faktor eksternal yang memengaruhi keberhasilan belajar.

Belajar: Proses Menjadi Manusia Berpengetahuan

Belajar tidak sesederhana menghafal. Dalam pandangan psikologi pendidikan, belajar adalah proses internal yang mengubah perilaku dan pola pikir seseorang melalui pengalaman. Empat pendekatan teori dijadikan dasar:

  • Behaviorisme, menekankan kebiasaan melalui stimulus-respons (Skinner, Pavlov).
  • Kognitivisme, melihat pentingnya proses mental seperti memori dan logika (Piaget, Vygotsky).
  • Konstruktivisme, di mana siswa membangun pengetahuan sendiri melalui interaksi aktif.
  • Humanisme, menekankan pentingnya motivasi dan pertumbuhan pribadi (Rogers, Maslow).
Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah

Dengan pemahaman ini, pendekatan belajar yang digunakan guru seharusnya tidak satu dimensi.

Mengajar: Seni Merancang Perubahan

Mengajar bukan hanya menyampaikan materi, tapi menggerakkan perubahan pada peserta didik. Menurut tim mahasiswa, mengajar yang efektif mencakup:

  • Perencanaan pembelajaran yang matang,
  • Pelaksanaan yang aktif, partisipatif, dan variatif,
  • Evaluasi untuk mengukur hasil belajar, serta
  • Refleksi, yaitu pengkajian ulang oleh pengajar terhadap efektivitas metode yang telah digunakan.

Guru yang mengajar tanpa refleksi sama saja dengan nakhoda yang berlayar tanpa arah.

Interaksi: Kelas yang Hidup Adalah Kelas yang Terbuka

Interaksi dalam kelas adalah denyut nadi proses belajar. Penelitian ini menyebutkan bahwa kelas yang aktif berdialog akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan keterampilan sosial yang lebih baik. Siswa menjadi terbiasa menyampaikan ide, menghargai pendapat orang lain, dan belajar menyelesaikan masalah bersama.

Baca Juga  Pentingnya Pendidikan Karakter di Sekolah

Sayangnya, interaksi yang sehat ini sering kali terhambat oleh budaya belajar yang pasif atau dominasi guru yang terlalu kaku.

Faktor Eksternal yang Tidak Bisa Diabaikan

Penelitian ini juga menyoroti empat faktor utama yang memengaruhi efektivitas belajar mengajar:

1. Lingkungan belajar — kenyamanan ruang kelas, dukungan psikologis, dan suasana yang aman secara emosional.

2. Kurikulum — sejauh mana program pembelajaran relevan dan terstruktur.

3. Teknologi dan media pembelajaran — dari buku hingga aplikasi digital.

4. Evaluasi dan umpan balik — sebagai tolok ukur dan sarana pengembangan diri siswa dan guru.

Tanpa perhatian serius terhadap faktor-faktor ini, proses belajar mengajar rentan kehilangan makna.

Baca Juga  KKN Tematik UMMI dan Patriot Desa Cihamerang Sukabumi Dampingi Pengembangan Sari Buah Lemon AT-Tiijaan

Kesimpulan: Pendidikan Harus Diperbarui dari Dalam

Artikel ini menyimpulkan bahwa pendidikan tidak bisa hanya dibenahi dari atas (kebijakan), tapi harus diperbaiki dari inti prosesnya—belajar dan mengajar. Dibutuhkan guru yang reflektif, siswa yang aktif, serta lingkungan sekolah yang mendukung.

Dengan pendekatan yang holistik terhadap proses ini, pendidikan bisa menjadi bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi transformasi manusia.

Penulis:

Kelompok 4 Mahasiswa Pendidikan

Asri Rahayu, Lusi Latifah, Neneng Riska P, Desi Nirmala, Fitri, Novi Nurharum Sari, Nela, Tanti, Az-Zahra Aprilia

Dosen Pembimbing/ Dosen Pengampu : Elnawati M. P.d

Catatan Redaksi:

Sukabumisatu.com mengapresiasi kontribusi pemikiran dari kalangan akademik. Artikel mahasiswa seperti ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya milik birokrat, tapi tanggung jawab kolektif. Jika Anda memiliki opini, riset, atau gagasan pendidikan lainnya, kirim ke redaksi@sukabumisatu.com.

Related Posts

Add New Playlist