SUKABUMISATU.com, PABUARAN – Genap satu tahun sudah musibah pergeseran tanah meluluhlantakkan Desa Lembursawah, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Namun, alih-alih mendapatkan kepastian relokasi, warga terdampak justru merasa dibiarkan berjuang sendiri di tengah puing-puing reruntuhan dan ketidakpastian masa depan.
Hingga hari ini, jeritan hati masyarakat Desa Lembursawah seolah membentur tembok tebal. Janji-janji manis, termasuk yang sempat terlontar dari lisan Menteri Desa (Kemendes), kini dirasakan warga hanya sebagai angin lalu tanpa realisasi nyata.
Hidup dalam Bayang-bayang Ketakutan
Selama 365 hari terakhir, para penyintas harus bertahan dengan kondisi serba terbatas. Ada yang menumpang di rumah kerabat, ada pula yang terpaksa bertahan di hunian sementara yang jauh dari kata layak. Beban ekonomi yang menghimpit ditambah kekhawatiran akan masa depan pendidikan anak-anak menjadi santapan sehari-hari.
”Ini bukan sekadar soal pindah rumah, ini soal martabat dan hak dasar kami untuk hidup aman. Kami merasa dilupakan seiring berjalannya waktu,” keluh salah seorang warga dengan nada getir.
Kritik Pedas Forum Masyarakat: “Pemerintah Tutup Mata dan Telinga”
Ketidakpastian ini memicu reaksi keras dari Forum Masyarakat Desa Lembursawah. Ketua Forum, Randi Firmansyah, SH, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap respons Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang dinilai lamban dan tidak peka.
Randi membeberkan bahwa pihaknya telah melayangkan surat permohonan audiensi kepada Bupati Sukabumi pada 30 Januari lalu. Namun, bukannya jawaban kepastian yang didapat, warga justru merasa dipermainkan oleh birokrasi.
”Sangat disayangkan, sampai saat ini belum ada balasan. Malah lempar bola ke Sekretaris Daerah (Sekda). Sudah kami konfirmasi berkali-kali kapan bisa berjumpa untuk bersilaturahmi, tapi tetap tidak ada jawaban pasti,” tegas Randi kepada awak media.
Randi menilai, sikap diamnya pimpinan daerah menunjukkan adanya pengabaian terhadap penderitaan rakyat kecil. “Seolah-olah pemerintah daerah tutup mata dan telinga terkait permasalahan ini,” cetusnya tajam.
Menagih Kehadiran Sang Pemimpin
Warga kini hanya bisa berharap adanya “keajaiban” berupa kehadiran langsung Bupati Sukabumi di lapangan. Mereka ingin sang pemimpin melihat langsung bagaimana kondisi nyata rakyatnya yang kini hidup tanpa kepastian tempat tinggal.
Kehadiran Bupati dinantikan bukan hanya sebagai simbol kepedulian, tetapi sebagai pemutus rantai ketidakpastian relokasi yang selama setahun ini menggantung tanpa solusi konkret.
Akankah Pemerintah Kabupaten Sukabumi terus bergeming, atau akhirnya bergerak memberikan hak hidup layak bagi warga Lembursawah? Publik menanti bukti nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.
Reporter: Aris
Editor: Demi Pratama Adiputra









