SUKABUMISATU.com – Viral di media sosial kisah pilu seorang balita asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi. Anak bernama Raya, berusia sekitar 3 tahun, meninggal dunia setelah tubuhnya dipenuhi cacing gelang (askariasis).
Video berdurasi 9 menit yang diunggah akun filantropi Rumah Teduh memperlihatkan kondisi Raya saat dirawat intensif di ruang ICU. Tanpa identitas kependudukan maupun kartu BPJS, bocah tersebut berjuang dengan kondisi kritis, bahkan cacing keluar dari hidung, mulut, dan anus. Hingga kini, tayangan tersebut sudah ditonton lebih dari 9,8 juta kali di Facebook.
Sejak Kecil Sudah BGM
Menurut Cisri Maryati, bidan desa setempat, Raya sejak bayi memang masuk kategori Bawah Garis Merah (BGM) dalam pemantauan tumbuh kembang anak. Ia kerap mendapat bantuan makanan tambahan dari desa dan puskesmas, termasuk susu, telur, ayam, buah-buahan, hingga obat cacing rutin setiap enam bulan sekali.
“Terakhir Februari kemarin, Raya sudah dapat obat cacing. Namun berat badannya tetap sulit naik, sehingga kami sarankan rujukan ke ahli gizi. Sayangnya, permintaan itu beberapa kali ditolak pihak keluarga,” ujar Cisri.
Kendala Keluarga
Bidan desa menuturkan, setiap kali dirujuk ke puskesmas, ibu Raya kerap menolak dengan alasan dilarang sang ayah, Rizaludin alias Mang Rizal. Bahkan bantuan susu yang diberikan desa kerap habis hanya dalam hitungan hari tanpa penjelasan jelas.
Kondisi keluarga Raya memang memprihatinkan. Mereka tinggal di rumah semi panggung berdinding GRC bersama ayahnya Udin (32), ibunya Endah (38), serta kakak perempuan berusia 7 tahun.
Diduga Keterbelakangan Mental
Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, mengonfirmasi bahwa balita dalam video viral itu adalah warganya. Ia menyebut kedua orang tua Raya diduga mengalami keterbelakangan mental sehingga tidak mampu merawat anak secara maksimal.
“Kedua orang tuanya memiliki keterbelakangan mental, sehingga daya asuh terhadap anaknya kurang. Raya sering bermain di bawah kolong rumah bersama ayam, hidupnya tidak sehat,” kata Wardi, Selasa (19/8/2025) pada sukabumisatu.com.
Wardi menambahkan, sebelum kondisinya kritis, Raya sempat didiagnosis mengidap penyakit paru dan dirawat di puskesmas. Namun pengobatan sempat terkendala karena keluarga tidak memiliki KK maupun KTP.
Dibawa Filantropi, Berujung Duka
Setelah kondisinya makin memburuk, keluarga melapor ke Rumah Teduh. Raya lalu dijemput dengan ambulans dan dirawat intensif selama sekitar sembilan hari. Namun nyawanya tidak tertolong, ia meninggal dunia pada 22 Juli 2025. “Jenazah Raya dimakamkan malam itu juga,” jelas Wardi.
Ia menegaskan, meski kerap mendapat bantuan dari tetangga dan keluarga besar, pola asuh yang buruk dan minim pengawasan membuat Raya tumbuh dalam kondisi rentan. Kakak Raya yang berusia 7 tahun kini disebut masih diasuh kerabatnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra












