SUKABUMISATU.com, Simpenan – Fenomena terdamparnya ribuan kerang putih di Pantai Talanca Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, memantik reaksi keras dari para aktivis lingkungan. Meski warga menganggapnya sebagai “rezeki nomplok” di awal tahun 2026, peristiwa ini disebut sebagai alarm atas rusaknya keseimbangan ekologi laut di Teluk Palabuhanratu.
Pemerhati Lingkungan Hidup, Asep Yadi, menegaskan bahwa kemunculan kerang yang bercampur dengan tumpukan sampah kiriman ini merupakan anomali yang harus diwaspadai secara serius.
Alarm Ekologis: Kerang sebagai Benteng Terakhir
Asep Yadi menjelaskan bahwa secara ekologis, kerang memiliki peran vital sebagai penyaring atau penetralisir logam berat di perairan. Jika biota yang dikenal paling tangguh ini pun mulai terganggu dan terdampar masif, maka kondisi lingkungan tersebut sudah masuk tahap mengkhawatirkan.
”Fungsi kerang dalam ekologis itu sebagai penetralisir logam-logam berat. Artinya, jika kerang ini sudah terganggu, berarti secara ekologis kondisinya sudah parah dan diambang kritis,” tegas Asep Yadi kepada SukabumiSatu.com.
Menurutnya, kerang adalah biota yang paling tahan terhadap paparan polutan. “Kerang ini biota yang paling tahan terhadap kandungan logam berat. Jadi kalau mereka sampai ‘terusir’ atau tidak mampu bertahan di habitatnya, itu menunjukkan kondisi air di situ sudah tidak suport lagi terhadap lingkungan hidup,” tambahnya.
Dampak Fatal: Ancaman Rantai Makanan dan Kesehatan
Kondisi ini menciptakan risiko ganda bagi masyarakat yang memanennya:
- Bioakumulasi pada Manusia: Kerang yang menjalankan fungsinya menyerap logam berat di tengah tumpukan sampah akan menyimpan racun tersebut dalam dagingnya. Warga yang mengonsumsinya berisiko terpapar akumulasi zat berbahaya jangka panjang.
- Zona Mati (Dead Zone): Tumpukan sampah yang menutupi habitat kerang menciptakan kondisi anoksik (tanpa oksigen) di dasar laut, memaksa biota yang bertahan hidup untuk keluar dari substrat dan akhirnya terseret arus.
Skema Solusi: Membenahi dari Hulu ke Hilir
Asep Yadi mendesak pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk melakukan langkah konkret, bukan sekadar pembersihan seremonial:
- Audit Kualitas Air & Sedimen: Segera lakukan uji laboratorium terhadap kandungan logam berat pada air dan daging kerang di Pantai Loji untuk memastikan keamanan pangan.
- Restorasi Habitat Benthic: Pembersihan sampah tidak boleh hanya di permukaan, tapi juga sampah yang mengendap di dasar laut yang menutupi ekosistem kerang.
- Pemasangan Trash Boom di Hulu: Membangun sistem penyekat sampah di muara sungai-sungai yang mengalir ke Teluk Palabuhanratu guna meminimalisir sampah kiriman.
- Edukasi Masyarakat: Memberikan pemahaman bahwa tidak semua yang “dimuntahkan” laut aman dikonsumsi, terutama jika berasal dari area yang ekosistemnya telah rusak.
”Alam sedang bicara. Ketika laut memuntahkan isinya bersama sampah, itu adalah tanda bahwa rumah mereka sudah tidak layak huni. Jika kita hanya mengambil isinya tanpa membenahi habitatnya, jangan kaget jika suatu saat laut tidak lagi memberikan apa-apa selain limbah,” pungkas Asep Yadi. (Redaksi)











