Rabu,6 Mei 2026
Pukul: 11:21 WIB

Mengenal Standar Kecantikan Wanita Sunda Masa Lalu: Antara Etika, Estetika, dan Filosofi Naskah Kuno

Mengenal Standar Kecantikan Wanita Sunda Masa Lalu: Antara Etika, Estetika, dan Filosofi Naskah Kuno

Rabu, 6 Mei 2026
/ Pukul: 10:13 WIB
Rabu, 6 Mei 2026
Pukul 10:13 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Ternyata, definisi “geulis” bagi wanita Sunda atau Mojang Parahiyangan tidak hanya soal paras yang menawan, namun memiliki standar yang sangat detail dan sarat akan nilai filosofis. Hal ini terungkap dalam sejumlah naskah Sunda Kuno seperti Carita Ratu Pakuan, Carita Raden Jayakeling, hingga Sewaka Darma.

​Dikutip dari catatan sejarah tersebut, kecantikan fisik wanita Sunda tempo dulu digambarkan dengan metafora alam yang unik. Seorang wanita dianggap cantik jika memiliki hidung menyerupai pala kurung (seperti bentuk labu) dan mata yang bening laksana kaca dari negeri Cina.

Estetika Fisik yang Detail

​Dalam naskah Carita Ratu Pakuan, fisik ideal wanita Sunda meliputi:

Postur Tubuh: Tengkuk yang keras (bungkul) dan tegak, memberikan kesan anggun saat berjalan.

Proporsi: Bahu yang rata seimbang layaknya timbangan Jawa (taraju jawaeun) dan perut yang agak sintal berisi (kambuy beuteung).

Detail Kecil: Jemari yang lentik (tareros), kulit kuning langsat, hingga ketiak yang bersih tanpa bulu.

​Menariknya, rambut dipandang sebagai mahkota yang sangat dijaga. Naskah Sewaka Darma menyebutkan bahwa rambut hitam terawat wajib ditata dengan sanggul model sri teja purana windu. Tak hanya itu, penggunaan perhiasan seperti siger (mahkota kepala), kilatbahu di lengan kanan, dan gelang kancana di tangan kiri menjadi simbol status dan estetika yang tinggi.

Etika Berpakaian dan Kesantunan

​Bukan sekadar pamer kecantikan, naskah kuno juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan. Dalam Carita Raden Jayakeling, terdapat pesan eksplisit agar wanita senantiasa menutupi bagian payudara dengan aben atau kemben (penutup dada serupa bra).

“Pinareup mangka abenan, mulah dimangka cugenang,” demikian bunyi kutipan naskah tersebut, yang artinya payudara harus ditutup dan jangan dibiarkan menyembul.

​Untuk bawahan, mereka menggunakan kain bermotif giringsing wayang yang ditenun secara teliti. Konon, pembuatan kain ini bisa memakan waktu hingga 5 tahun, menunjukkan betapa wanita Sunda masa lalu sangat menghargai proses dan kualitas.

Wajib ‘Motekar’: Pandai Masak dan Menenun

​Kecantikan wanita Sunda makin paripurna jika dibarengi dengan sifat motekar atau terampil. Dua keahlian wajib yang harus dimiliki adalah menenun dan memasak.

Naskah Sanghyang Swawarcinta merinci secara detail kepiawaian memasak ini. Bukan sekadar masak, tapi memahami karakter bahan makanan:

​Ikan Paray dikembang lopang, ​Ikan Lendi dipepes sedikit asam, ​Ayam Danten diolah menjadi pecel, sementara Ayam Bikang (betina) lebih cocok dipanggang.

​Keterampilan ini, dalam istilah Sunda kuno disebut kacigeuy tuang caroge, yakni kunci agar senantiasa dicintai dan disayangi oleh suami.

​Melalui naskah-naskah kuno ini, kita belajar bahwa kecantikan wanita Sunda adalah perpaduan harmonis antara kesempurnaan fisik, ketaatan pada norma kesopanan, dan kemandirian dalam berkarya.

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist