SUKABUMISATU.com – Slogan “Pendidikan Prioritas Utama” nampaknya hanya menjadi pemanis bibir di Kabupaten Sukabumi. Jumat (3/4/2026), SDN Batununggul di Desa Karangmekar, Kecamatan Cimanggu, akhirnya menyerah pada waktu. Satu ruang kelas ambruk rata dengan tanah, menyisakan pertanyaan besar: Haruskah menunggu ada nyawa melayang sebelum perbaikan dilakukan?
Birokrasi Lamban, Nyawa Siswa Jadi Taruhan
Kejadian yang terjadi pukul 11.25 WIB ini memang tidak memakan korban jiwa karena bertepatan dengan hari libur. Namun, “keberuntungan” ini tidak menghapus fakta bahwa 170 siswa selama ini dipaksa belajar di bawah ancaman atap yang bisa roboh kapan saja.
Kepala SDN Batununggul, Maryati, S.Pd, membeberkan fakta pahit. Pihak sekolah sudah berteriak meminta bantuan sejak tahun 2019. Tim survei bahkan sudah datang tujuh tahun lalu, namun hasilnya nihil. Alibi pandemi COVID-19 kembali digunakan sebagai “kambing hitam” atas terhambatnya pembangunan.
”Kami sudah mengajukan sejak lama. Tahun 2024 memang ada rehab, tapi anehnya hanya dua kelas. Satu kelas yang paling parah justru ditinggalkan, dan sekarang terbukti ambruk,” ungkap Maryati dengan nada kecewa.
Rehabilitasi Setengah Hati
Kebijakan rehabilitasi yang dilakukan pada tahun 2024 menjadi sorotan tajam. Mengapa hanya dua ruang kelas yang diperbaiki sementara ruang ketiga dibiarkan lapuk hingga akhirnya ambruk? Hal ini menunjukkan adanya ketidakmatangan dalam perencanaan dan skala prioritas oleh dinas terkait.
Bima, tokoh pemuda setempat, mengecam lambatnya respons pemerintah. Menurutnya, masyarakat sudah bosan dengan janji-janji survei tanpa realisasi.
”Ini adalah rapor merah bagi Dinas Pendidikan dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Jangan sampai anggaran dialokasikan untuk hal-hal yang kurang mendesak, sementara gedung sekolah yang menjadi tempat bertaruhnya masa depan anak-anak dibiarkan seperti kandang yang mau roboh,” tegas Bima.
Camat Berjanji, Warga Menagih Bukti
Camat Cimanggu, Dusep Sadeli, menyatakan akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait. Namun, bagi warga, pernyataan “segera mengecek” sudah terlalu sering terdengar.
Kini, puing-puing di SDN Batununggul bukan sekadar sampah bangunan, melainkan simbol kegagalan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur pendidikan yang aman. Jika pembangunan tidak segera dilakukan secara menyeluruh, bukan tidak mungkin ruang kelas lain akan menyusul, dan mungkin saat itu, nasib tidak lagi berpihak pada keselamatan para siswa.
Pertanyaannya sekarang: Berapa banyak lagi SDN Batununggul lain di Kabupaten Sukabumi yang tinggal menunggu waktu untuk roboh?
Reporter : Maulana Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra












