SUKABUMISATU.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengeluarkan peringatan serius terkait prakiraan musim kemarau panjang yang akan terjadi tahun ini. Rabu, (4/3/2026) lalu.
Musim kering tahun ini diprediksi bukan sekadar kemarau biasa, melainkan akan datang lebih awal, lebih kering, dan bertahan jauh lebih lama dari rata-rata sejarah.
Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Konferensi Pers Prakiraan Awal Musim Kemarau 2026 di Gedung Multi-Hazard Early Warning System, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Transisi Fenomena Alam: Dari La Niña ke El Niño
Faisal menjelaskan bahwa fenomena La Niña Lemah yang sempat memengaruhi cuaca di Indonesia telah berakhir pada Februari 2026. Saat ini, kondisi iklim global telah bergeser ke fase Netral, namun ada ancaman baru yang mengintai di pertengahan tahun.
”Mulai pertengahan tahun, peluang munculnya El Niño kategori Lemah-Moderat sebesar 50-60% perlu menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Faisal.
Berdasarkan pemantauan anomali di Samudera Pasifik, indeks ENSO saat ini berada di angka -0,28 (Kategori Netral) dan diprediksi bertahan hingga Juni. Namun, pergeseran menuju El Niño pada semester kedua dipastikan akan memperparah dampak kekeringan.
Puncak Kekeringan di Agustus 2026
Dari total 699 zona musim di Indonesia, hampir 60% wilayah diprediksi akan mengalami masa kemarau yang lebih panjang dari normalnya.
April 2026: Gelombang kekeringan dimulai di 144 zona musim.
Mei – Juni 2026: Meluas ke wilayah lainnya secara bertahap.
Agustus 2026: Menjadi Puncak Kemarau, di mana 64% wilayah Indonesia akan masuk kategori di bawah normal (sangat kering).
Tiga Langkah Penyelamat: Pangan, Air, dan Karhutla
Menghadapi ancaman ini, BMKG menekankan tiga langkah krusial yang harus segera dilakukan oleh pemerintah daerah dan masyarakat, termasuk di wilayah Sukabumi:
Sektor Pangan: Petani diimbau segera beralih ke varietas tanaman hemat air dengan siklus tanam pendek untuk menjaga ketahanan pangan.
Sektor Air: Revitalisasi waduk, embung, dan perbaikan pipa distribusi air bersih adalah “harga mati” agar stok air warga tetap aman.
Kesiapsiagaan Bencana: Waspadai potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Jangan menunggu api berkobar baru mulai peduli.
”Data sudah di tangan, sekarang tinggal bagaimana kebijakan adaptif dan tindakan nyata kita di lapangan. Prediksi adalah panduan, tapi aksi adalah penyelamat,” tegas Faisal.
Bagi warga Sukabumi yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian dan sumber air alami, informasi ini menjadi alarm untuk mulai bijak dalam menggunakan air dan mempersiapkan pola tanam yang adaptif sebelum kekeringan mencapai puncaknya.
Redaktur: Demi Pratama Adiputra












