Rabu,6 Mei 2026
Pukul: 20:44 WIB

Diangkat Menjelang Pensiun: Kisah Haru Guru Honorer yang Baru Mendapat Kepastian di Ujung Pengabdian

Diangkat Menjelang Pensiun: Kisah Haru Guru Honorer yang Baru Mendapat Kepastian di Ujung Pengabdian

Kamis, 4 Desember 2025
/ Pukul: 12:40 WIB
Kamis, 4 Desember 2025
Pukul 12:40 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com — Kamis, 4 Desember 2025 menjadi hari yang penuh haru bagi ribuan tenaga honorer di Kabupaten Sukabumi. Sebanyak 8.164 honorer resmi diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, setelah dilantik langsung oleh Bupati Sukabumi H. Asep Japar di Lapang Cangehgar, Palabuhanratu.

Pelantikan yang ditandai dengan pengambilan sumpah ini dirangkaikan dengan momentum besar: HUT Ke-54 KORPRI, HUT Ke-80 PGRI, dan Hari Guru Nasional 2025 tingkat Kabupaten Sukabumi.

Di lapangan yang dipenuhi ribuan orang itu, bukan hanya formalitas pelantikan yang terasa, tetapi juga napas panjang perjuangan yang akhirnya menemukan sedikit kepastian.

Di antara ribuan wajah yang hadir, terselip kisah-kisah yang tak pernah tampil dalam dokumen birokrasi—kisah panjang tentang pengabdian, ketulusan, dan bertahun-tahun menunggu kepastian. Salah satunya adalah kisah Aan Royanah (59) dan Sulaesih (57).

Di sudut perbatasan Sukabumi–Banten, ketika pagi masih berselimut kabut, seorang perempuan berusia 59 tahun kembali memulai langkahnya. Aan Royanah, guru SD Negeri Caringin Cisolok, telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk anak-anak desa terpencil.

Baca Juga  Surat Mengharukan Ditemukan Bersama Bayi di Pos Ronda Babakan: Ungkap Kisah Depresi dan Putus Asa Sang Ibu

Setiap hari ia harus menempuh jarak 16 kilometer menuju sekolah. Jika menggunakan ojek, ongkosnya mencapai Rp75 ribu sekali antar—jumlah yang sangat berat bagi seorang guru honorer.

Karena itu, Aan sering memilih menginap di rumah warga sekitar sekolah. Tas kecil, pakaian ganti, dan beberapa buku menjadi barang wajib yang selalu ia bawa.

Honor pertama yang ia terima pada tahun 2005 hanya Rp50 ribu rupiah. Namun bagi Aan, mengajar selalu ia jalani dengan keikhlasan yang nyaris tak bisa dijelaskan.

“Alhamdulilah murid-murid saya sudah banyak yang jadi PNS, Polisi, TNI. Saya bangga,” ucapnya lirih, mata berkaca-kaca.

Baginya, keberhasilan murid-muridnya adalah bayaran paling tulus. Bukan gaji, bukan status—tetapi rasa bangga melihat murid yang dulu dituntunnya kini berdiri lebih tinggi dari dirinya.

Di usia 59 tahun, hanya setahun menjelang pensiun, Aan akhirnya ikut dalam pelantikan PPPK paruh waktu. Terlambat, namun tetap ia syukuri.

Kisah Sulaesih: Dua Dekade Mengajar, Tetap Tegar Meski Gaji Kecil

Tidak jauh dari sana, kisah serupa hadir di SMP Negeri 1 Parakansalak. Sulaesih (57), guru PPPKN, sudah lebih dari 20 tahun mengajar dengan segala keterbatasan.

Baca Juga  Tragedi Tenda Biru: Niat Rayakan Kemenangan, Ayah dan Anak Asal Cimanggu Pulang Tinggal Nyawa

Namun, di balik gaji kecil dan ketidakpastian status yang ia jalani bertahun-tahun, wajah Sulaesih selalu dihiasi senyum keberanian.

“Saat murid saya menjadi PNS, saya bangga… meski saya tetap honorer. Saya bangga karena siswa-siswa saya bisa lebih sukses dari saya,” ujarnya.

Honor yang ia terima baru meningkat sejak 2019, menjadi sekitar Rp800 ribu per bulan.

Jumlah yang masih jauh dari cukup, namun baginya itu adalah berkah yang besar. Dengan uang yang pas-pasan itu, ia tetap mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus kuliah.

Pelantikan Tenaga Kerja Paruh Waktu Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi. Kamis, (4/12/2025).

“Berkah segitu juga… anak-anak saya bisa kuliah dan cukup, bahkan saat ini anak saya juga mengikuti jejak saya menjadi Guru,” tuturnya dengan senyum yang menyimpan banyak cerita.

Di tengah keterbatasan, Sulaesih tetap hadir di kelas setiap pagi. Tetap mengajar dengan hati. Tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan yang harus ia jaga sampai akhir.

Baca Juga  Bukan Seremoni Biasa, Sekretaris DPRD Tuntut Kinerja Usai 78 Honorer Dilantik

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Dalam Arti yang Sesungguhnya

Kisah Aan Royanah dan Sulaesih adalah potret nyata wajah pendidikan di Kabupaten Sukabumi. Dua perempuan sederhana yang bertahan bukan karena materi, tetapi karena cinta yang tulus terhadap profesi dan murid-muridnya.

Di hari pelantikan 8.164 PPPK Paruh Waktu, mereka bukan sekadar angka dalam daftar. Mereka adalah cerita—cerita panjang yang akhirnya menemukan cahaya, walau hanya sedikit.

Mereka tidak pernah menuntut penghargaan. Tidak pernah meminta pangkat. Yang mereka inginkan hanyalah melihat murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Di usia yang hampir memasuki masa pensiun, mereka tetap hadir dan tetap berdiri. Tetap menjadi guru—sepenuhnya dengan hati. Karena pengabdian seperti itu… memang hanya bisa dilakukan oleh pahlawan tanpa tanda jasa. Dan hari itu, di Lapang Cangehgar, Sukabumi memberi mereka sedikit bukti bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia.

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist