SUKABUMISATU.com – Di tengah derasnya arus pembangunan, masih ada cerita getir dari pelosok Kabupaten Sukabumi. Rosad (56), warga Kampung Cimenteng RT 16/14, Desa Buniwangi, Kecamatan Surade, harus bertahan hidup di rumah reyot yang nyaris ambruk bersama keluarganya.
Setiap kali hujan turun, derasnya air menembus atap bocor hingga membasahi hampir seluruh ruangan rumah. Angin kencang yang datang kerap membuat Rosad dan keluarga hanya bisa berdoa agar bangunan tua itu tidak roboh menimpa mereka.
Ironisnya, di tengah kondisi rumah yang jauh dari kata layak, Rosad juga harus bergulat dengan penyakit diabetes. Sejak divonis mengidap penyakit tersebut, ia tak lagi mampu bekerja seperti dulu. Nafkah keluarga pun semakin sulit terpenuhi.
“Benar, kondisi keluarganya sangat memprihatinkan. Setahu saya memang Rosad tercatat sebagai penerima PKH, tapi bantuan itu tidak cukup menutupi kebutuhannya sehari-hari,” ujar Hendi, warga sekitar yang mengenal dekat Rosad.
Kesulitan itu mengetuk hati banyak pihak. Dedi Kurniadi, seorang pemerhati sosial, mengaku terenyuh setelah melihat langsung kondisi Rosad. Ia kini tengah menggalang donasi untuk memperbaiki rumah yang tidak layak huni tersebut. “Saya hanya ingin ada secercah harapan baru bagi keluarga ini. Semoga semakin banyak yang tergerak membantu,” katanya.
Meski pasrah pada keadaan, Rosad tetap menyimpan harapan. Ia ingin suatu hari bisa tinggal di rumah yang layak, tempat keluarganya bisa beristirahat dengan tenang tanpa khawatir hujan atau angin.
Kisah Rosad bukan hanya tentang kesulitan hidup, tapi juga tentang bagaimana masyarakat di sekitarnya mencoba hadir sebagai penopang. Di balik keterbatasan, masih ada kepedulian yang tumbuh. Sebuah cermin bahwa solidaritas sosial adalah kekuatan terakhir yang membuat mereka yang lemah tetap bertahan.












