SUKABUMISATU.com – Sejak bencana longsor pada Maret 2025 lalu, ratusan warga Kampung Cicau I, Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, masih hidup dalam ketidakpastian. Hingga kini, sebanyak 223 jiwa atau 65 kepala keluarga masih bertahan di tenda darurat tanpa kepastian relokasi maupun hunian tetap.
Musibah longsor pada Kamis malam (6/3/2025) menghancurkan rumah Darjat (60), istrinya Siti Mariyam (35), dan anak mereka Ahyar Fauzi (9). Ketiganya diduga tertimbun longsor dan hingga kini belum ditemukan.
Namun duka itu seolah tak berakhir. Enam bulan berlalu, para penyintas masih harus hidup di bawah tenda yang sudah tidak layak huni. Angin kencang dan musim hujan membuat pengungsian menjadi tempat yang jauh dari kata nyaman.
“Angin di sini cukup kencang, apalagi saat musim hujan seperti sekarang. Kami sangat tidak nyaman tinggal di dalam tenda,” keluh Asep (30), salah seorang pengungsi pada sukabumisatu.com. Jum’at, (12/9/2025).
Ketersediaan air bersih memang ada, tetapi antrean panjang membuat warga kesulitan. “Air sih tidak kekurangan, tapi karena banyak orang, kami harus antre, apalagi sore hari,” tambahnya.
Kesulitan juga datang dari sisi logistik. Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani garapan mulai kehilangan pekerjaan, sementara bantuan kian menipis.
“Kalau seminggu dua minggu mah wajar tinggal di tenda darurat. Tapi kalau berbulan-bulan, sangat sulit bagi kami bertahan,” kata Wawan (32) warga Cicau.
Beberapa warga bahkan memilih kembali ke kampung halaman mereka yang rawan longsor, karena tidak adanya kepastian dari pemerintah.
Kondisi ini memperlihatkan lambannya penanganan pascabencana. Enam bulan pasca longsor, para penyintas masih hidup di tenda, terjebak dalam ketidakpastian nasib dan masa depan.
Reporter: Najli Fikri
Editor: Demi Pratama Adiputra











