Sabtu,18 April 2026
Pukul: 19:15 WIB

Kemiskinan dan Rutilahu di Cibadak Jadi Sorotan, Ini Respons Camat

Kemiskinan dan Rutilahu di Cibadak Jadi Sorotan, Ini Respons Camat

Kamis, 4 September 2025
/ Pukul: 18:35 WIB
Kamis, 4 September 2025
Pukul 18:35 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Maraknya pemberitaan mengenai kondisi kemiskinan dan rumah tidak layak huni (Rutilahu) di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, mendapat tanggapan langsung dari Camat Cibadak, Mulyadi.

 

Sebelumnya, publik sempat dihebohkan dengan kisah warga miskin, di antaranya Pak Misjo di Desa Tenjojaya yang tinggal di gubuk kebun tanpa listrik, serta Pak Maman di Desa Pamuruyan yang harus bertahan di rumah sederhana dengan keterbatasan akses layanan dasar. Kisah mereka sempat viral di media sosial dan menimbulkan simpati luas masyarakat.

 

Menanggapi hal itu, Camat Cibadak menegaskan bahwa jumlah Rutilahu di setiap desa memang cukup banyak sehingga diperlukan pendataan akurat agar penanganannya tidak salah sasaran.

Baca Juga  Kwarcab Sukabumi Peringati Hari Pramuka ke-64: Tegaskan Peran Strategis Pramuka dalam Ketahanan Bangsa

“Setiap desa sudah melaporkan jumlah Rutilahu, dan bulan ini sedang dalam proses identifikasi. Data itu akan kami rekap di tingkat kecamatan agar penanganannya bisa lebih berkelanjutan dan tepat sasaran,” kata Mulyadi, Kamis (4/9/2025).

 

Ia mengakui intervensi pemerintah saat ini masih terbatas, rata-rata hanya dua rumah per desa per tahun. Namun, tahun ini ada tambahan program dari Sentra yang menyasar sekitar 21 rumah.

 

Kasus Pak Misjo dan Pak Maman

Mulyadi menjelaskan, kasus Pak Misjo terjadi karena rumah asalnya telah dijual ke keluarganya sehingga ia memilih tinggal di kebun yang lahannya bukan milik pribadi. Kondisi itu membuatnya hidup tanpa akses listrik. “Namun tetap ada upaya penanganan, termasuk rencana relokasi dengan dukungan pihak ketiga,” jelasnya.

Baca Juga  Dapur Rumah Warga di Cibadak Ambruk Diguyur Hujan, Satu Keluarga Terpaksa Mengungsi

 

Sementara kasus Pak Maman di Desa Pamuruyan juga menjadi perhatian pemerintah kecamatan. “Hasil asesmen tidak hanya mencatat kondisi rumah, tetapi juga kebutuhan dasar lainnya. Kalau tidak punya BPJS kami bantu prosesnya, kalau belum punya KTP atau KK kami fasilitasi. Bahkan bila perlu pengobatan, kami juga bantu akses ke layanan kesehatan,” tambahnya.

 

Gotong Royong Jadi Kunci

Meski kecamatan tidak memiliki anggaran khusus untuk penanganan masalah sosial, Mulyadi menegaskan pihaknya selalu berkoordinasi dengan desa, dinas, maupun lembaga lain. Beberapa kasus bahkan sudah tertangani, seperti keluarga Jaya Supriatna di Bojong Koneng yang kini menempati rumah layak huni berkat bantuan Baznas Kabupaten Sukabumi dan dukungan masyarakat.

Baca Juga  Nasib Kakek Amir tak Semoncer Nama Ujunggenteng

 

Ia mengajak masyarakat untuk memperkuat kepedulian sosial di lingkungan masing-masing. “Kalau ada masalah sosial, sebaiknya segera lapor ke RT, RW, desa, atau kecamatan agar bisa ditindaklanjuti. Jangan langsung curhat di media sosial. Dengan gotong royong dan koordinasi, penanganan bisa lebih cepat,” pungkasnya.

 

Reporter: Suhendi Soex/ M.Waldi

Related Posts

Add New Playlist