News  

Potret Pilu Lansia Sukabumi: 17 Tahun Huni Rumah Reyot Bersama 6 Jiwa

Rumah sepasang Lansia di Cibadak yang tidak layak huni. Rabu, (3/9/2025).

SUKABUMISATU.com – Potret kemiskinan kembali menyeruak di Kabupaten Sukabumi. Sepasang suami istri lanjut usia, Maman (68) dan Kokoy (62), harus bertahan hidup di sebuah rumah reyot tak layak huni yang berdiri di tengah kebun, tepatnya di Kampung Anggayuda, RT 01 RW 05, Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak.

 

Sudah 17 tahun lamanya pasangan lansia ini menetap di rumah berdinding bilik bambu dan beratap bocor tersebut. Tak hanya berdua, mereka juga tinggal bersama dua kepala keluarga (KK) lainnya dengan total enam jiwa yang menggantungkan hidup di tempat sempit itu. Saat hujan deras, air kerap merembes masuk, membuat lantai tanah becek dan menambah penderitaan mereka.

Baca Juga  Tolak Tawaran Kemensos, Ini Alasan Sekeluarga asal Subang jadi Pemulung di Sukabumi tak Mau Dievakuasi

 

Sehari-hari, Maman bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, usia yang sudah renta membuat tenaganya terbatas. Sementara istrinya, Kokoy, hanya bisa pasrah karena kondisi fisik yang tak lagi kuat menopang aktivitas.

“Sudah 17 tahun mereka tinggal di sini. Kalau hujan deras, air masuk ke dalam rumah. Kasihan sekali, mereka hidup seadanya,” ungkap salah seorang warga sekitar.

Ketua RT setempat, Dede Suhendar, membenarkan kondisi memprihatinkan keluarga Maman. Ia mengatakan pihaknya sudah berulang kali mengajukan permohonan bantuan, namun hingga kini belum ada realisasi.

 

“Kami dari lingkungan sudah berusaha melaporkan ke pemerintah desa. Mudah-mudahan ada perhatian serius, karena rumah ini memang sudah tidak layak dihuni. Apalagi penghuninya adalah lansia yang seharusnya mendapat prioritas bantuan,” tegas Dede.

Baca Juga  Jadi Daya Tarik Warga, Pohon Pisang Merah Hiasi Halaman Kantor Kecamatan Cibadak

 

Warga berharap pemerintah desa maupun pihak terkait segera turun tangan memberikan bantuan, baik berupa renovasi rumah maupun pemenuhan kebutuhan pokok.

 

Di tengah gencarnya pembangunan, kisah Maman dan Kokoy menjadi pengingat bahwa masih banyak warga Sukabumi yang hidup di bawah garis kelayakan. Mereka butuh uluran tangan, bukan sekadar belas kasihan.

 

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *