SUKABUMISATU.com – Perpustakaan SDN 1 Ciemas, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, sempat mati suri setelah diterjang banjir dua kali pada 4 Desember 2024 dan 6 Maret 2025. Rak-rak buku berdebu, ruang belajar terbengkalai, dan semangat literasi anak-anak pun ikut tenggelam.
Banjir dipicu dangkalnya aliran sungai di sekitar sekolah yang penuh sampah, tanpa Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan pembatas sungai. Kondisi makin parah karena sebagian warga masih terbiasa membuang sampah sembarangan.

Melihat situasi itu, mahasiswa KKM Kelompok 8 Desa Ciemas dari STKIP Bina Mutiara Sukabumi Kampus II Surade turun tangan. Mereka menggagas Pojok Literasi berbasis ecobrick—ruang baca kreatif yang tidak hanya menghadirkan kembali semangat membaca, tetapi juga mengajarkan siswa peduli lingkungan.
Kegiatan dimulai pada 8 Agustus 2025. Mahasiswa memperkenalkan konsep ecobrick kepada siswa, mengajarkan cara mengolah sampah plastik menjadi botol padat yang kemudian dirangkai menjadi meja baca dan hiasan pojok literasi. “Ecobrick bukan hanya tempat membaca, tapi juga pengingat pentingnya menjaga sungai dari sampah,” kata Ketua KKM, Riki Apandi.
Workshop pembuatan ecobrick berlangsung meriah. Anak-anak tampak antusias mengisi botol dengan plastik bekas, merapikannya, lalu menghiasnya penuh warna. Dari 11–13 Agustus, mereka bersama mahasiswa membersihkan ruangan perpustakaan, mengelap rak buku, menyapu lantai, hingga ruang kembali nyaman digunakan.

Puncaknya, pada 25 Agustus 2025, pojok literasi resmi dibuka. Ruangan kini dihiasi warna-warni ecobrick yang membuat suasana belajar lebih hidup. Anak-anak kembali bersemangat membaca buku di ruang yang mereka ciptakan sendiri.
Kepala SDN 1 Ciemas, Ai Juhaeti, mengapresiasi langkah mahasiswa KKM. “Pojok literasi ini memberikan motivasi baru bagi siswa. Terima kasih kepada mahasiswa KKM yang telah menghadirkan inovasi kreatif sekaligus edukatif.”
Kini, perpustakaan yang sempat sunyi telah bangkit. Dari tumpukan sampah, lahirlah karya bermanfaat. Dari banjir yang merusak, tumbuh kesadaran baru: literasi dan ekologi bisa berjalan beriringan.











