SUKABUMISATU.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah dasar hingga menengah yang sedang gencar dijalankan pemerintah, ternyata menimbulkan keluhan dari pedagang tradisional di Pasar Cibadak, Kabupaten Sukabumi.
Pasalnya, kebutuhan bahan pangan untuk dapur MBG yang cukup besar lebih banyak dipasok langsung dari tengkulak besar. Kondisi ini membuat pedagang di pasar tradisional merasa tersisih dan semakin sepi pembeli.
Bapak Jamal, pedagang ayam potong di Pasar Cibadak, mengaku omsetnya menurun sejak dapur MBG berjalan.
“Biasanya sehari bisa habis sampai 40 ekor ayam, sekarang paling laku 15 sampai 20 ekor. Karena pembelian untuk MBG itu langsung dari tengkulak besar, bukan lewat pedagang pasar seperti kami,” ucapnya dengan nada kecewa saat ditemui Sukabumisatu.com. Sabtu, (23/8/2025).
Hal senada disampaikan Ema Enah, pedagang ayam eceran lainnya. Menurutnya, meski MBG ditujukan bagi siswa sekolah, dampaknya tetap terasa bagi pedagang kecil.
“Sekarang harga jadi kurang bagus, pembeli juga makin sepi. Pedagang kecil seperti kami susah bersaing kalau semua kebutuhan besar diambil tengkulak,” keluhnya.
Tak hanya pedagang ayam, kondisi serupa juga dialami pedagang beras dan sayuran. Pa Ucok, yang sehari-hari berjualan nasi padang di sekitar pasar, menilai kebijakan ini kurang menyentuh sektor kecil.
“Kalau terus begini, pedagang pasar bisa gulung tikar. Harusnya ada kebijakan supaya dapur MBG juga belanja ke pasar tradisional, biar ekonomi kecil ikut bergerak,” katanya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah bisa mencari solusi, agar keberadaan program MBG tidak hanya bermanfaat bagi siswa sekolah, tetapi juga bisa memberi peluang usaha bagi pedagang pasar tradisional di Sukabumi.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra








