SUKABUMISATU.com — Di tengah ancaman degradasi lingkungan dan krisis lahan kritis, Kabupaten Sukabumi sebenarnya menyimpan kekuatan alami yang nyaris terlupakan yaitu bambu.
Tanaman yang secara ilmiah diklasifikasikan sebagai anggota keluarga rumput-rumputan ini memiliki laju pertumbuhan tercepat di dunia dan menyimpan potensi ekologis serta ekonomis yang luar biasa.
Namun, di balik semua potensi itu, ada cerita tentang kelambanan, janji yang tak kunjung ditepati, dan peluang besar yang terbuang sia-sia.
Potensi Bambu: Cepat Tumbuh, Kaya Manfaat
Bambu bukan sekadar tanaman hijau yang tumbuh liar. Menurut penelitian Liese (1985), produksi biomassa bambu mencapai 50–100 ton per hektar, tujuh kali lipat dari produksi pohon kayu biasa. Bahkan dari sisi ekologi, bambu mampu menyerap hingga 60 ton karbon dioksida dan menghasilkan oksigen dalam jumlah yang sama per hektar setiap tahunnya.
Dengan sistem akar serabutnya yang menjalar hingga radius 12 meter, rumpun bambu mampu mengikat tanah dan menyerap air hujan hingga 90%, menjadikannya jawaban atas permasalahan longsor, kekeringan, dan banjir yang rutin melanda wilayah Sukabumi setiap tahun.
Fakta Geografis yang Mendukung
Secara geografis, Sukabumi memiliki lebih dari 118.894 hektar lahan dengan kemiringan curam (25–45 derajat hingga >45 derajat)—kondisi yang ideal untuk tumbuhnya bambu secara alami. Namun ironisnya, berdasarkan data tahun 2020, Sukabumi memiliki lahan kritis dan lahan tidur seluas 235.637 hektar, lahan yang dibiarkan tanpa produktivitas dan menjadi sumber bencana ekologis.
“Jika dibiarkan, ini menjadi bom waktu. Sukabumi akan terus mengalami kerusakan lingkungan besar-besaran,” ungkap Dudi Darma Bakti, Sekretaris Yayasan Bale Budaya Bambu.
Dilema Kebijakan dan Janji Pemerintah
Yayasan Bale Budaya Bambu telah sejak awal 2025 menyampaikan rencana ambisius untuk menghidupkan kembali bambu sebagai poros ekonomi dan ekologi di Sukabumi. Rencana mereka meliputi pembangunan pusat pelatihan, fasilitas produksi, sistem pembibitan, hingga pemasaran terpadu. Pemerintah pun sempat menyatakan dukungan.
Namun, kenyataan berkata lain.
“Kami sudah ajukan permohonan pemakaian lahan untuk pembibitan. Tapi sampai sekarang, belum ada realisasi. Janji tinggal janji,” Opung Bunga Ayu salah satu pegiat Lingkungan kepada sukabumisatu.com.
Sikap lamban pemerintah daerah menjadi sorotan. Padahal, dalam audiensi dengan Wakil Bupati Sukabumi H. Andreas pada Juni lalu, pemerintah menyatakan keseriusan mereka untuk mendukung restorasi ekosistem bambu.

“Penanaman bambu bukan sekadar soal penghijauan, tapi investasi jangka panjang. Panennya lima tahun, tapi kalau tidak dimulai sekarang, kita akan terus tertinggal,” kata Andreas kala itu.
Namun hingga akhir Juli, belum ada izin pemakaian lahan yang dikucurkan.
Jejak Sejarah: Bambu Sukabumi Bukan Bambu Biasa
Tak hanya unggul dari sisi teknis dan lingkungan, bambu Sukabumi juga memiliki nilai sejarah yang kuat. Sejarawan dan budayawan lokal Irman Firmansyah menyebut bahwa sejak masa Karesidenan Priangan, bambu Sukabumi telah digunakan untuk konstruksi jembatan dan bangunan adat.
“Di Ciptagelar, rumah-rumah masih menggunakan bambu. Bukan sekadar karena adat, tapi karena kualitasnya memang kuat dan tahan lama,” ujarnya.
Lebih dari itu, bambu digunakan dalam tradisi dan ritual, dari alat pemotong tali pusar hingga instrumen sunat tradisional. Warisan ini menjadikan bambu sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda.
Bambu dan Ekonomi Hijau: Kesempatan yang Nyaris Hilang
Menurut David Farelly dalam bukunya The Book of Bamboo, bambu memiliki lebih dari 1.000 jenis pemanfaatan, dari jarum akupuntur hingga badan pesawat terbang. Secara global, bambu kini menjadi bagian penting dari ekonomi hijau dan industri berkelanjutan.
Namun tanpa regulasi yang jelas, sistem distribusi yang efektif, serta kemauan politik yang kuat, semua potensi ini hanya akan menjadi catatan kaki dalam laporan penelitian.
Yayasan Bale Budaya Bambu telah menyatakan komitmennya untuk membeli hasil produksi masyarakat dengan skema pemesanan bulanan, asalkan pemerintah menyediakan lahan pembibitan dan izin operasional.
“Bambu bukan cuma soal kayu alternatif, ini soal masa depan ekosistem dan ekonomi rakyat. Apalagi untuk daerah rawan bencana seperti Sukabumi,” tegas Dudi.
Saatnya Bambu Naik Panggung
Di saat dunia berlomba mengembangkan solusi ramah lingkungan, Sukabumi sesungguhnya telah memilikinya sejak lama — bambu. Tapi potensi ini tidak akan pernah jadi kekuatan jika hanya disimpan dalam proposal dan naskah pidato.
Jika pemerintah daerah sungguh serius menjadikan Sukabumi sebagai poros bambu nasional, maka dukungan riil — dari penyediaan lahan hingga fasilitasi regulasi dan pasar — tak bisa ditunda lagi. Sebab ekologi dan ekonomi tak menunggu.
—
Editor: Tim Redaksi Sukabumisatu.com











