SUKABUMISATU.com – Kabupaten dan Kota Sukabumi secara geografis merupakan wilayah yang dikelilingi pegunungan dan perbukitan. Namun, di balik keindahannya, Sukabumi menyimpan risiko bencana hidrometeorologi yang tinggi, terutama tanah longsor. Menariknya, jauh sebelum teknologi pemetaan digital ada, leluhur Sunda telah memiliki “SOP” mitigasi bencana yang tertuang dalam naskah kuno Warugan Lemah.
Geomansi Sunda: Bukan Sekadar Mitos
Warugan Lemah secara harfiah berarti “Bentuk Tanah”. Naskah ini merupakan panduan bagi masyarakat Sunda kuno untuk menentukan lokasi pemukiman. Di dalamnya, lahan diklasifikasikan berdasarkan arah hadap lereng dan karakteristik tanahnya.
Dalam naskah tersebut, disebutkan bahwa lahan yang miring ke arah Utara (Talaga Hangsa) adalah yang paling ideal dan membawa keselamatan. Sebaliknya, lahan yang miring ke arah Selatan (Petaka) dianggap sangat berbahaya bagi penghuninya.
Sains Modern Membuktikan
Meskipun naskah ini menggunakan bahasa simbolis, penelitian modern mulai mengungkap kebenaran ilmiah di baliknya. Penelitian dari Western Michigan University yang sempat viral dalam diskusi filologi menunjukkan bahwa di wilayah Jawa Barat, titik-titik longsor secara statistik lebih banyak terjadi pada lereng yang menghadap ke arah Selatan, Barat, dan Timur.
Kenapa demikian? Secara sains, hal ini berkaitan dengan:
Paparan Matahari (Aspect): Lereng yang menghadap selatan di wilayah khatulistiwa seringkali memiliki tingkat pelapukan batuan yang lebih intens akibat radiasi matahari dan pola curah hujan yang berbeda.
Kelembapan Tanah: Arah lereng menentukan seberapa lama air tertahan di dalam tanah (tekanan air pori). Tekanan air yang tinggi inilah yang menjadi pemicu utama tanah “merosot” menjadi longsor.
Pelajaran untuk Sukabumi yang Rawan Bencana
Kondisi Sukabumi yang memiliki banyak pemukiman di lereng perbukitan membuat kearifan Warugan Lemah ini sangat relevan. Seringkali, pembangunan villa atau perumahan saat ini hanya mengejar view (pemandangan) tanpa mempertimbangkan karakteristik “kesehatan” tanah yang telah dipelajari ribuan tahun lalu.
”Nenek moyang kita dulu tidak hanya melihat tanah sebagai komoditas, tapi sebagai entitas yang hidup. Mereka mengamati alam selama ratusan tahun, dan hasilnya adalah naskah tersebut. Ini adalah sains empiris yang dibungkus bahasa sastra,” ujar Agung Priyaguna salah seorang Budayawan Sukabumi pada sukabumisatu.com. Selasa, (20/01/26).
Mempelajari kembali Warugan Lemah bukan berarti kita kembali ke masa lalu secara primitif. Justru, ini adalah ajakan untuk memadukan Teknologi Geospasial modern dengan Kearifan Lokal.
Bagi warga Sukabumi yang tinggal di daerah perbukitan, memahami arah hadap lereng dan vegetasi di atasnya adalah langkah awal mitigasi mandiri. Alam sudah memberi tanda, tinggal kita yang harus pandai membacanya kembali.
Penulis: Demi Pratama Adiputra
Sumber: Naskah Warugan Lemah, Diskusi Filologi Sunda, Geoscience Letters









