SUKABUMISATU.com – Wilayah Sukabumi dan sekitarnya bukan sekadar daerah yang kaya akan pemandangan alam, namun juga menyimpan sejarah panjang bencana alam yang mematikan. Letaknya yang berada di atas jalur sesar aktif dan topografi perbukitan curam menjadikan wilayah ini sebagai “laboratorium” bencana di Jawa Barat.
Berdasarkan data yang dihimpun dari BMKG dan BPBD, catatan kelam bencana di Sukabumi telah terdokumentasi sejak abad ke-19. Berikut adalah rangkuman perjalanan panjang bencana yang pernah mengguncang Bumi Ganjar Sabarana.
Jejak Gempa: Sesar Cimandiri yang Tak Pernah Tidur
Sejarah mencatat bahwa gempa merusak pertama kali terdokumentasi secara formal pada tahun 1844. Kala itu, wilayah Cianjur dan Sukabumi mengalami kerusakan bangunan masif akibat aktivitas tektonik darat.
Sejak saat itu, setidaknya 15 gempa besar telah terjadi, di antaranya:
- Tahun 1900 & 1912: Gempa merusak di Palabuhanratu dan Cibadak yang merobohkan ribuan rumah.
- 12 Juli 2000: Gempa M 5,4 yang menghancurkan sekitar 1.900 rumah warga.
- 11 Maret 2020 (Gempa Kalapanunggal): Gempa M 5,1 yang mengejutkan warga di tengah awal pandemi, merusak lebih dari 760 rumah.
- 21 November 2022: Gempa Cianjur-Sukabumi M 5,6 yang menjadi pengingat paling segar betapa berbahayanya patahan aktif di darat, meskipun magnitudonya tidak mencapai angka 6.
Longsor dan Banjir Bandang: Ancaman Nyata di Depan Mata
Jika gempa bumi datang tanpa peringatan, bencana hidrometeorologi seperti longsor dan banjir bandang justru menjadi “langganan” tahunan, terutama di musim penghujan.
Salah satu tragedi yang paling membekas adalah Longsor Cisolok pada 31 Desember 2018 di Kampung Garehong, Desa Sirnaresmi. Sebanyak 32 warga dinyatakan meninggal dunia setelah satu dusun tertimbun material tanah dari perbukitan.
Tak berhenti di situ, catatan kelam berlanjut:
Banjir Bandang Cicurug (2020): 3 nyawa melayang saat air Sungai Citarik-Cipeuncit meluap hebat.
Catatan Kelam 2024-2025: Dalam dua tahun terakhir, intensitas bencana meningkat tajam. Pada Desember 2024 saja, tercatat 12 orang meninggal dunia akibat 131 titik longsor yang tersebar di 39 kecamatan.
Maret 2025: Kawasan Palabuhanratu dan Simpenan kembali berduka dengan 5 korban jiwa akibat banjir bandang yang terjadi secara tiba-tiba.
Zona Merah yang Harus Diwaspadai
Berdasarkan data risiko bencana, beberapa wilayah di Kabupaten Sukabumi kini masuk dalam pantauan ketat (Zona Merah):
Nyalindung & Gegerbitung: Wilayah dengan pergerakan tanah merayap (slow moving landslide) yang telah menghilangkan satu perkampungan di Desa Nangerang.
Cisolok & Kabandungan: Area rawan longsor tinggi karena kemiringan lereng.
Cicurug & Parakansalak: Wilayah rawan banjir bandang akibat penyempitan hulu sungai.
Melihat data statistik yang terus meningkat—di mana pada tahun 2024 tercatat ada 1.488 kejadian bencana—masyarakat diimbau untuk tidak hanya waspada, tetapi juga mulai memahami mitigasi bencana secara mandiri.
Sejarah bukan hanya untuk diingat, melainkan sebagai peringatan bahwa alam Sukabumi memiliki siklusnya sendiri. Kewaspadaan adalah harga mati bagi warga yang hidup di antara keindahan dan ancaman bencana.
Editor: Demi Pratama Adiputra









