SUKABUMISATU.com, Cidahu – Di bawah gelapnya awan mendung yang menyelimuti kawasan Cidahu, sebuah pemandangan luar biasa yang menggetarkan jiwa tersaji di kawasan CBD, Desa Pondok kaso Tonggoh, Selasa (25/8/2026). Tak ada sekat status, tak ada sekat jabatan. Seluruh elemen masyarakat menyatu menembus legamnya lumpur demi membentengi pemukiman dari ancaman banjir dahsyat jelang musim hujan.
Bukan sekadar aksi bersih-bersih biasa, kegiatan ini menjelma menjadi pertempuran sengit melawan tumpukan ‘monster sampah’ yang mengular buas dari hulu Cidahu hingga merayap ke hilir Desa Buniwangi, Kecamatan Parungkuda. Limbah yang menumpuk tak berdaya itu seolah siap mencekik napas saluran air dan menenggelamkan pemukiman jika hujan deras melanda.
Pemandangan paling menyentuh terlihat ketika Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, tanpa ragu sedikit pun menyingsingkan lengan baju. Orang nomor dua di Kabupaten Sukabumi itu terjun langsung ke dalam gorong-gorong yang pengap. Tangan-tangannya kotor berlumur lumpur pekat, bahu-membahu bersama Linmas, pemuda, dan warga lokal mengangkut material yang menyumbat aliran air.
Camat Cidahu, Leni Nurliah, S.Pd., S.IP., tampil penuh gelora memimpin barisan lintas elemen. Dari jajaran Polsek, Koramil, KUA, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat, hingga tenaga kesehatan, semuanya menjadi rantai kemanusiaan yang tak terputus.
”Ini adalah ikhtiar nyata kita. Tumpukan sampah yang sangat luar biasa dari hulu ke hilir menggerakkan nurani kita semua untuk bekerja sama. Alhamdulillah, berkat kristal kebersamaan ini, tumpukan sampah berhasil kita taklukkan,” ujar Leni dengan raut wajah penuh haru dan bangga.
Meski tumpukan limbah berhasil disingkirkan, Leni menyadari perjuangan belum usai. Sampah hanyalah satu puncak gunung es dari persoalan banjir yang kini tengah dianalisis secara mendalam. Apalagi, perjuangan warga kerap terganjal oleh keterbatasan armada pengangkut sampah menuju TPA Cikembar.
Di balik peluh yang menetes hari ini, terselip pesan mendalam untuk seluruh warga Cidahu. Kebersihan lingkungan bukan hanya tugas armada pengangkut, melainkan panggilan nurani setiap insan. Masyarakat diimbau untuk tidak lagi menyakiti alam dengan membuang sampah sembarangan, serta membiasakan diri memilah sampah organik dan non-organik dari dalam rumah.
Sebab pada akhirnya, kehangatan gotong royong di Cidahu hari ini membuktikan satu hal: benteng terkuat dalam menghadapi bencana bukanlah tembok beton yang megah, melainkan rasa cinta dan kepedulian mendalam masyarakat terhadap tanah kelahirannya.
Reporter: Chuba Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra












