SUKABUMISATU.com – Ramadan selalu identik dengan kebersamaan. Suara azan maghrib yang bersahutan, hidangan hangat di meja makan, hingga momen sahur yang dibangunkan orang tua menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana bulan suci di Indonesia.
Namun, pengalaman itu tak sepenuhnya dirasakan Arfa, siswa SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Cibadak, sukabumi/">Kabupaten Sukabumi, yang tahun ini menjalani ibadah puasa di Amerika Serikat.
Sejak tujuh bulan terakhir, Arfa tinggal di Texas, tepatnya di kawasan pinggiran Houston, sebagai peserta program pertukaran pelajar KL-YES yang disponsori oleh pemerintah Amerika Serikat. Di sana, ia hidup bersama keluarga angkat—seorang host dad dan satu siswa pertukaran asal Italia—dalam lingkungan yang jauh berbeda dari kampung halamannya.
“Ramadan kali ini sangat berbeda. Untuk pertama kalinya aku menjalaninya jauh dari keluarga,” ujar remaja asal Bogor, Jawa Barat ini dalam keterangan yang diterima redaksi, Rabu (18/03/2026).
Tak ada suara azan yang terdengar saat waktu berbuka tiba. Tak ada pula gorengan khas seperti bala-bala atau mie glosor yang biasa tersaji di rumah. Bahkan, sosok ibu yang biasanya setia membangunkan sahur kini hanya bisa hadir lewat panggilan telepon dari Indonesia.
Kerinduan itu kerap muncul, terutama saat Arfa melihat unggahan keluarga dan teman-temannya di media sosial. Baginya, Ramadan selalu menjadi momen yang paling dinantikan setiap tahun—bulan yang penuh keberkahan, kebersamaan, dan kehangatan.
Kini, semua itu harus ia jalani seorang diri.
Di Texas, Arfa berpuasa sekitar 12 hingga 13 jam setiap hari. Meski durasinya tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, tantangan yang dihadapi terasa lebih besar. Ia harus mengatur semuanya sendiri, mulai dari bangun sahur hingga menyiapkan makanan.
Untuk memastikan tidak kesiangan, Arfa memasang hingga sepuluh alarm sekaligus. Ia juga memanfaatkan Alexa, asisten virtual berbasis suara, untuk membantunya bangun.
“Setiap alarm bunyi, aku harus teriak ‘Alexa, stop!’ supaya berhenti,” katanya sambil tertawa.
Menu sahur pun ia siapkan sendiri. Jika memiliki cukup waktu, ia memasak hidangan seperti eggs benedict, scrambled egg, hingga nasi goreng. Namun, saat waktu terbatas, mi instan menjadi pilihan praktis.
“Indomie selalu jadi andalan. Rasanya seperti makan di rumah,” ujarnya.
Meski tinggal di lingkungan mayoritas non-muslim, Arfa mengaku tidak pernah mengalami perlakuan negatif terkait keyakinannya. Justru sebaliknya, ia merasakan sikap toleransi yang tinggi dari orang-orang di sekitarnya.
Teman-temannya di sekolah sering menunjukkan rasa penasaran terhadap puasa yang ia jalani. Dari situ, terbangun diskusi ringan yang saling menghargai perbedaan.
Dukungan juga datang dari keluarga angkatnya. Mereka memahami kondisi Arfa yang berpuasa, membantu mengatur aktivitas, hingga memastikan ia bisa berbuka tepat waktu. Bahkan, sang host dad kerap membelikannya makanan untuk berbuka.
Di Houston, terdapat Masjid Istiqlal yang menjadi pusat kegiatan komunitas Muslim Indonesia. Namun, karena jaraknya cukup jauh, Arfa jarang mengunjunginya. Ia lebih sering menjalankan salat tarawih sendiri di kamar.
Kesendirian itu justru menjadi ruang refleksi yang mendalam.
Dalam keseharian, Arfa tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Saat jam makan siang di sekolah, ia tetap duduk bersama teman-temannya di kafetaria meski tidak ikut makan. Ia juga tetap mengikuti pelajaran olahraga seperti sepak bola, basket, hingga latihan di gym, meskipun sedang berpuasa.
“Kadang terasa sangat lelah, tapi dari situ aku belajar untuk lebih sabar dan berkomitmen,” katanya.
Pengalaman menjalani Ramadan di negeri orang memberikan pelajaran berharga bagi Arfa. Ia tidak hanya belajar tentang budaya baru, tetapi juga tentang bagaimana menjaga identitas dan nilai-nilai yang ia yakini.
Arfa mengaku menemukan makna Ramadan yang lebih dalam—tentang kesabaran, keteguhan, dan arti rumah yang sesungguhnya. Bagi Arfa, di mana pun berada, Ramadan tetaplah sama: bulan penuh keberkahan yang selalu menghadirkan cerita-cerita istimewa.








