Menembus Kabut Kasepuhan hingga Pesisir Selatan: Jejak Perjalanan MRC No One Knows di Sukabumi

Komunitas Manja Rider Community (MRC), di halaman Hotel Bunya Ayu Palabuhanratu. Dok: MRC

SUKABUMISATU.com — Di atas rakit bambu yang perlahan membelah arus sungai, berbaris sepeda motor dengan roda-roda yang sejenak terdiam. Perjalanan kali ini tidak ditentukan oleh putaran gas, melainkan oleh irama penyeberangan tradisional. Adegan tersebut menjadi pembuka perjalanan bertajuk MRC No One Knows yang digagas oleh Manja Rider Community (MRC) pada 18–20 September 2026.

​Sebagian rute dibocorkan, sebagian lagi disimpan rapat sebagai kejutan. Namun, di balik nama yang menyiratkan misteri, agenda penjelajahan ini memiliki arah yang lugas: mempererat tali persaudaraan sekaligus menyapa sudut-sudut wisata Sukabumi secara lebih dekat.

​Dari Ekspedisi Keluarga Menjadi Komunitas

​Kisah MRC tidak lahir dari kelompok besar. Ketua Komunitas MRC, Jihan Ibnu, mengungkapkan bahwa kebersamaan ini berawal dari perjalanan pribadinya bersama sang istri, Ericha Putri, pada 2015. Rute awal yang mereka jelajahi meliputi Puncak, Cariu, hingga Sukabumi.

​Tak lama berselang, Wira Fernandez—sepupu Jihan yang kini menjabat Koordinator Tim Peralatan dan Dokumentasi—turut bergabung. Dari tiga orang yang berbagi hobi menjelajah, MRC berkembang hingga mencatatkan sekitar 40 anggota pada September 2026.

​Penjelajahan mereka pun meluas, mulai dari kawasan Bogor Barat, Banten, Cianjur, Bandung, hingga pesisir Sukabumi seperti Ciletuh, Ujung Genteng, dan Pelabuhan Ratu. Bagi MRC, touring bukan sekadar menepi untuk berfoto, melainkan ruang perjumpaan dengan masyarakat lokal.

Baca Juga  Polri Tetap di Bawah Presiden: Opung Bunga Ayu Bicara Soal Stabilitas dan Lingkungan

​Rute Penuh Kejutan dan Uji Karakter

​Kegiatan kali ini diikuti oleh 21 peserta dari kawasan Bogor, Tangerang, Jakarta, Bekasi, dan Depok. Mengambil titik kumpul final di McDonald’s Cibinong, rombongan bertolak pada Jumat, 18 September 2026, pukul 07.00 WIB.

​Jihan sengaja merancang konsep No One Knows untuk memberi ruang bagi rasa penasaran para peserta. Rute etape pertama dibuka secara terbatas, sementara jalur menuju Kasepuhan Gelaralam melalui Gunung Bongkok disimpan sebagai kejutan.

​“Salah satu cara terbaik untuk menguji sejauh mana sejatinya karakter seorang sahabat adalah dengan mengajaknya menempuh perjalanan yang jauh dan penuh rintangan,” ujar Jihan. Selasa, (22/09/2026).

​Menembus Desa, Menikmati Durian, dan Dini Hari di Gelaralam

​Menyusuri jalur Bogor Barat, rombongan disuguhi medan yang bervariasi: penyeberangan rakit bambu melintasi Sungai Cisadane, jembatan gantung Cibeuteung Muara, hingga ruas jalan berbatu. Sebelum memasuki kawasan Kebun Teh Cianten, peserta berhenti untuk makan siang dan menunaikan salat Jumat.

​Perjalanan berlanjut ke Kabandungan. Di sini, rombongan beristirahat sejenak untuk menikmati durian lokal jenis Simas, Matahari, dan Bawor.

​Menjelang magrib, rombongan sempat melintasi Pelabuhan Ratu sebelum menembus kegelapan malam menuju Gunung Bongkok. Rombongan akhirnya tiba di Kasepuhan Gelaralam sekitar pukul 01.00 WIB, Sabtu (19/9/2026). Para peserta menginap di kediaman Kang Yoyo dan kawasan Imah Gede.

Baca Juga  Bupati Marwan di Pelepasan 50 Peserta Culture Ride Humanity: Promosi Pariwisata dan Budaya Sukabumi Ke Tingkat Dunia

​Kunjungan MRC bertepatan dengan suasana hangat warga lokal yang tengah bersiap menyambut tradisi tahunan Seren Taun pada pekan berikutnya. Di kasepuhan adat ini, peserta menyaksikan dari dekat kearifan lokal masyarakat dalam memelihara tradisi budidaya padi dan keberadaan leuit (lumbung padi).

Kasepuhan Gelar Alam, Dokumentasi MRC

​Kehangatan Pesisir Pelabuhan Ratu

​Setibanya dari Gelar alam melalui rute Cipta Mulya dan Sirnaresmi pada Sabtu sore, rombongan bergerak menuju Bunga Ayu Seaside Resort di Pelabuhan Ratu. Kedatangan mereka disambut hangat oleh manajer resor, Opunk.

​Malam kebersamaan diisi dengan santap malam hidangan kambing guling, ikan blue marlin, dan cumi jumbo, disambung acara ramah tamah serta karaoke.

​“Perjalanan yang jauh dan medan yang sukar adalah cermin terbaik untuk memantulkan kepribadian dan ketulusan seorang teman yang sesungguhnya,” tutur Jihan menutup catatan perjalanannya.

​Pada Minggu (20/9/2026) pagi, setelah menyusuri pantai di sekitar resor, rombongan bertolak kembali ke Jabodetabek melalui rute Pelabuhan Ratu–Cikidang–Parungkuda–Caringin–Bogor.

Dokumentasi MRC

​Alur Rangkaian Perjalanan

Hari pertama (18 Sept): bertolak dari Cibinong, menyeberangi rakit bambu Cisadane, melewati jembatan gantung Cibeuteung Muara, menikmati durian di Kabandungan, dan tiba di Kasepuhan Gelar Alam dini hari.

Baca Juga  Bupati Marwan di Pelepasan 50 Peserta Culture Ride Humanity: Promosi Pariwisata dan Budaya Sukabumi Ke Tingkat Dunia

Hari kedua (19 Sept): mengenal tradisi adat Kasepuhan Gelar Alam, bertolak melewati Cipta Mulya dan Sinaresmi, lalu check-in serta malam keakraban di Bunga Ayu Seaside Resort Pelabuhan Ratu.

Hari ketiga (20 Sept): menikmati wisata pantai pagi hari sebelum bertolak kembali menuju Jabodetabek via Cikidang dan Parungkuda.

​Penjelajahan tiga hari ini membuktikan bahwa pesona wisata Sukabumi terletak pada kekayaan alurnya. Perpaduan antara tantangan alam, keramahan warga desa, kelestarian adat, dan keindahan pesisir menjadikan MRC No One Knows bukan sekadar touring biasa, melainkan cara menghargai destinasi dan menguatkan kebersamaan. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *