SUKABUMISATU.com – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Kubang, Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, doa dan harapan tak pernah putus dipanjatkan pasangan guru honorer, Heri Eriansyah dan Yati Rohayati. Sejak sembilan tahun lalu, mereka terus berjuang demi kesembuhan putra tercintanya, Zihad, yang menderita penyakit kulit langka Candidiasis.
Zihad terlahir kembar dengan seorang saudari perempuannya. Sang kembaran tumbuh sehat dan normal, sementara Zihad harus menghadapi kenyataan pahit dengan luka di tubuhnya sejak bayi. Perbedaan itu sering membuat hati kedua orangtuanya teriris, namun sekaligus menjadi penyemangat untuk terus berjuang mencari jalan kesembuhan bagi Zihad.
Penyakit itu pertama kali muncul ketika Zihad masih bayi. Saat dirawat di rumah sakit, bercak putih kecil di mulutnya ternyata bukan hal sepele. Dokter menyebutnya jamur. Setahun kemudian, ketika usianya genap dua tahun, bercak kecil kembali muncul, kali ini di tangannya. Gatal, memerah, dan semakin melebar menyerupai lingkaran obat nyamuk.
Sejak itu, perjuangan panjang dimulai. Salep dan obat diberikan, dokter spesialis kulit didatangi, rumah sakit besar di Bandung pun jadi tujuan. Ada kalanya Zihad sembuh sementara, lalu kambuh kembali dengan luka yang semakin menyiksa. Bertahun-tahun, tubuh kecilnya harus kuat menahan perih, sementara kedua orang tuanya harus tegar menyaksikan setiap penderitaannya.
Kini, setelah hampir tiga tahun menjalani rawat jalan di RSHS Bandung, kondisi Zihad perlahan membaik. Luka yang dulu menjalar hampir ke seluruh tubuh, kini hanya tersisa di wajah dan tangan kanan. Namun perjuangan itu masih jauh dari kata selesai.
“Sebetulnya kami ingin sekali membawa Zihad berobat ke Jakarta, tapi kami terkendala biaya,” ujar Yati dengan mata berkaca-kaca.
Di balik sakitnya, ada keteguhan hati seorang anak. Zihad yang kini duduk di kelas 2 SD, tetap berangkat sekolah dengan penuh semangat. Meski wajah dan tangannya masih menyisakan luka, ia mulai berani percaya diri di hadapan teman-temannya.
“Harapan kami, pemerintah bisa membantu pengobatan Zihad sampai sembuh. Supaya ia bisa tumbuh seperti anak-anak lain, bisa bermain tanpa rasa sakit,” kata Yati lirih.
Kisah Zihad bukan hanya tentang penyakit langka, tapi tentang cinta orangtua, ketabahan seorang anak, dan harapan besar pada uluran tangan pemerintah. Karena di balik senyum kecilnya, tersimpan mimpi sederhana: ingin sembuh dan hidup normal, seperti saudari kembarnya.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra











