Jadi Juara Matematika Dunia, Ini Kisah Catherine Siswi SMK Pariwisata Cicurug Berbekal Jajan Rp 10 Ribu

Catherine Salsabila Santoso Lim dan Guru Pembimbing Tetti Ernawati.

SUKABUMISATU.com, Cicurug — Di tengah hiruk-pikuk kawasan industri Cicurug, Kabupaten Sukabumi, terselip kisah inspiratif tentang ketangguhan dan prestasi. Keterbatasan ekonomi tak sedikit pun menyurutkan langkah Catherine Salsabila Santoso Lim (15) untuk mengukir prestasi hingga tingkat internasional.

Siswi kelas 11 SMK Pariwisata Indonesia Cicurug (SMIP) ini berhasil menyabet Juara 1 dan Medali Emas dalam ajang kompetisi matematika tingkat internasional yang diselenggarakan secara daring oleh Universitas Sumatera Utara. Catherine menyingkirkan setidaknya 349 peserta lain dari berbagai Negara.

Pencapaian ini sekaligus menambah deretan catatan membanggakan bagi SMK Pariwisata Indonesia Cicurug. Sekolah swasta yang berdiri sejak tahun 1992 tersebut memang dikenal cukup aktif melahirkan generasi berbakat dan memiliki segudang prestasi di wilayah Sukabumi.

Namun, di balik medali emas yang berkilau itu, ada perjuangan hidup yang penuh kesederhanaan.

Anak Yatim dan Putri Buruh Pabrik Garmen

Catherine merupakan seorang anak yatim. Ayahnya telah lama meninggal dunia, meninggalkan ia, sang ibu, dan saudaranya untuk bertahan hidup. Ibunya sehari-hari bekerja keras sebagai buruh jahit di sebuah pabrik garmen demi menopang kebutuhan keluarga.

Gadis kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, yang kini menetap di Cijeruk ini mengaku hidup sangat sederhana. Setiap hari sekolah, sang ibu memberinya uang jajan secukupnya.

“Dikasih jajan sama Mama per hari Rp 10.000,” tutur Catherine jujur sambil tersenyum polos saat ditemui di sekolahnya. Selasa, (22/09/2026).

Meskipun dalam perlombaan internasional ini ia tidak mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan hanya menerima medali serta sertifikat penghargaan, Catherine mengaku sangat bersyukur dan bangga.

“Nggak ada hadiah uang, cuma dapat medali dan sertifikat. Menurut saya itu sudah cukup banget untuk masa depan,” ungkapnya.

Rahasia Belajar dan Pantang Takut Gagal

Banyak yang mengira Catherine adalah sosok jenius sejak kecil. Namun, gadis berkacamata ini menepis anggapan tersebut. Menurutnya, kuncinya hanyalah konsistensi dan banyak latihan.

“Sebenarnya saya matematika juga nggak terlalu jago sih, tapi saya memperbanyak latihan aja,” aku Catherine.

Dalam menghafal atau memahami rumus-rumus rumit, Catherine memiliki metode khusus. Ia memanfaatkan teknik kiasan kata kunci yang dihubungkan dengan bayangan benda-benda di sekitarnya agar lebih mudah diingat.

Bagi kawan-kawannya yang kerap merasa minder atau takut pada pelajaran matematika, Catherine membagikan pesan yang mendalam:

“Pesan saya, jangan pernah takut untuk mencoba, jangan pernah takut gagal. Karena kegagalan adalah salah satu proses perkembangan kita untuk menjadi lebih maju,” tegasnya penuh semangat.

Kebanggaan Guru Pembimbing dan Sekolah

Prestasi luar biasa yang diraih Catherine turut mendatangkan rasa haru dan bangga dari pihak sekolah, khususnya sang guru pembimbing Matematika, Tetti Ernawati.

Tetti, yang mendampingi Catherine selama proses pembelajaran dan perlombaan, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kegigihan anak didiknya tersebut.

“Tentu kami sangat bangga ada siswa yang ikut perlombaan sampai meraih Juara 1. Apapun yang kalian kerjakan selama itu positif, sekolah pasti mendukung penuh. Mudah-mudahan Catherine bisa menjadi motivator dan contoh bagi siswa lainnya bahwa di mana pun kita berada, kita bisa berprestasi,” tutur Tetti Ernawati penuh haru.

Kisah Catherine adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang keluarga bukanlah penghalang untuk meraih mimpi setinggi langit. Berbekal ketekunan serta pendampingan guru yang telaten, anak buruh garmen dari Cicurug ini berhasil membuktikan kemampuannya di panggung internasional.

Reporter: Chuba Yusuf

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *