SUKABUMISATU.com – Di balik tenangnya panorama perbukitan jalur nasional Sukabumi-Palabuhanratu, tersimpan sebuah “mesin” raksasa yang tak pernah tidur. Tanjakan Baeud, yang selama ini dikenal sebagai titik langganan jalan ambles, ternyata hanyalah puncak gunung es dari aktivitas tektonik purba yang kini mulai menunjukkan taringnya.
Misteri ini bermula dari sebuah kegagalan teknis yang tak terduga. Saat pengeboran penelitian dilakukan, mesin-mesin bor terhenti di kedalaman 35 meter. Di sana, ditemukan hamparan batu hitam masif setebal 80 meter yang menolak ditembus.
Eli Keling (57), warga setempat yang menyaksikan proses tersebut, menuturkan betapa kerasnya lapisan tersebut. Namun, para peneliti seperti Dr. Mudrik R. Daryono dari BRIN dan tim dari Badan Geologi melihat temuan ini bukan sekadar batu, melainkan “Basement” atau batuan dasar yang terjepit di zona hancuran Sesar Cimandiri.
Sudut Pandang Peneliti: Mengapa Bumi Terus Bergerak?
Berdasarkan kajian para ahli, apa yang terjadi di Tanjakan Baeud dan sekitarnya adalah fenomena “Soil Creep” (Rayapan Tanah) yang dipicu oleh dua kekuatan besar:
Lantai Gelincir Tektonik: Penelitian Danny Hilman Natawidjaja (BRIN) mengonfirmasi bahwa Sesar Cimandiri adalah zona patahan aktif dengan laju pergerakan sekitar 2 \text{ cm/tahun}. Batu hitam di bawah Baeud bertindak sebagai “lantai kaca” yang miring dan licin. Tanah di atasnya, yang sudah rapuh akibat aktivitas sesar selama jutaan tahun, perlahan-lahan merosot turun.
Pelumas dari Ketinggian: Temuan rembesan air saat pengeboran memperkuat teori hidrologi. Air dari Situ Halimun tidak hanya mengalir di permukaan, tetapi meresap (infiltrasi) hingga menyentuh batuan dasar. Secara edukatif, air ini menciptakan tekanan pori yang tinggi, mengubah tanah menjadi bubur dan bertindak sebagai “pelumas” yang membuat tanah di atas batu hitam tersebut meluncur lebih cepat.
Dari Baeud ke Pasirsuren: Jejak Luka yang Sama
Misteri pergerakan tanah ini tidak berhenti di Tanjakan Baeud. Sesar Cimandiri sedang mengirimkan pesan yang lebih keras di Kampung Nyalindung, Desa Pasirsuren. Di sana, fenomena ini berubah menjadi tragedi kemanusiaan.

Rumah yang Terbelah: Di Pasirsuren, warga menyaksikan bagaimana dinding rumah mereka terbelah secara perlahan setiap harinya. Ini adalah manifestasi nyata dari pergerakan lateral (menyamping) dan vertikal Sesar Cimandiri.
Jalur Nasional yang Rapuh: Kerusakan jalan nasional Sukabumi-Palabuhanratu bukan disebabkan oleh kualitas aspal yang buruk, melainkan karena fondasi buminya memang sedang bergeser. Hasil kajian Badan Geologi menyebutkan bahwa wilayah ini memiliki tingkat kerentanan gerakan tanah menengah hingga tinggi.
Menurut kajian para peneliti, Sesar Cimandiri adalah struktur yang kompleks; ia tidak hanya menyebabkan gempa mendadak, tapi juga kerusakan perlahan melalui rayapan tanah yang mematikan struktur bangunan.
Mitigasi: Hidup di Atas Punggung Naga
Secara edukatif, peneliti mengingatkan bahwa pembangunan di jalur ini tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Para ahli menyarankan:
Drainase Dalam (Deep Drainage): Untuk menyedot “pelumas” (air tanah) agar tidak mengumpul di atas batu hitam.
Zonasi Ketat: Wilayah seperti Pasirsuren dan Nyalindung seharusnya menjadi zona hijau yang bebas dari bangunan berat.
Tanjakan Baeud bukan sekadar misteri batu hitam atau resapan danau. Ia adalah pengingat bahwa kita sedang berpijak di atas punggung raksasa tektonik yang sedang menggeliat. Memahami karakteristik Sesar Cimandiri bukan lagi pilihan, melainkan kunci untuk bertahan hidup di tengah ancaman yang tak kasat mata.
Editor: Demi Pratama Adiputra
Sumber: Data BRIN & Badan Geologi









