Pasar Wisata, Menjawab Sepinya Hunian Hotel Palabuhanratu lewat Gagasan Terpadu

Ilustrasi Pasar Wisata Palabuhanratu

SUKABUMISATU.com, Palabuhanratu — Angin laut yang berembus di kawasan pesisir Palabuhanratu sore itu membawa serta asa baru bagi masa depan pariwisata Kabupaten Sukabumi. Di balik indahnya gelombang Samudra Hindia, para pelaku usaha pariwisata dan penggiat budaya tengah memutar otak, mencari cara agar pesona bahari tak sekadar jadi pajangan, melainkan mampu menggerakkan roda ekonomi warga secara berkelanjutan.

​Geliat inilah yang melandasi lahirnya sebuah ide segar bertajuk Pasar Wisata Palabuhanratu. Wacana tersebut resmi disampaikan oleh Yayasan Bale Budaya Bambu bersama Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sukabumi kepada jajaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi dalam ajang diskusi hangat di Hotel Bunga Ayu, Rabu (28/10/2026) lalu.

​Menjawab Keluh Kesah Pelaku Usaha

​Ide Pasar Wisata tidak lahir di atas meja yang kaku, melainkan dari realitas pahit yang dirasakan para pelaku industri perhotelan lokal belakangan ini. Sepinya kunjungan wisatawan berimbas langsung pada operasional harian.

​Pengelola Hotel Bunga Ayu sekaligus anggota PHRI, Sebastian—atau yang akrab disapa Opung—dengan jujur membeberkan kondisi berat yang dialami para pengusaha akomodasi di Palabuhanratu.

​”Beberapa bulan ini okupansi hotel sangat menurun. Keadaan kami hanya bisa bertahan, beban perusahaan terasa makin berat… dari maintenance, gaji karyawan, listrik, telepon, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, hingga pajak harus dibayar semua, tidak ada ampun,” ungkap Opung blak-blakan pada sukabumisatu.com Jumat, (30/10/26).

​Rasa prihatin atas kondisi tersebut mendorong Opung berdiskusi intensif dengan rekannya, Dudi Darma Bakti dari Yayasan Bale Budaya Bambu. Berbekal komitmen kuat untuk mencari solusi, mereka memberanikan diri mengundang Kepala Dinas Pariwisata beserta jajaran pejabat daerah dan pengurus PHRI untuk duduk bersama.

Baca Juga  Marak Perdukunan dan Penyimpangan Sejarah, Paguyuban Padjadjaran Anyar Desak Penataan Cagar Budaya Palabuhanratu

​”Untuk itu semua saya berdiskusi dengan kawan, Pak Dudi Darma Bakti, untuk mencari jalan mengatasi semua. Membuat konsep Pasar Wisata dan dengan modal nekat saya mengundang Kadis Pariwisata dengan jajaran pejabat lainnya serta staf PHRI untuk membahas masalah ini. Semoga kegiatan ini bermanfaat buat dunia wisata Kabupaten Sukabumi,” tambah Opung penuh harap.

​Mengawinkan Alam, Kerajinan, dan Seni Budaya

​Konsep Pasar Wisata yang ditawarkan bukan sekadar pasar kaget atau tempat jual-beli konvensional. Sekretaris Jenderal Yayasan Bale Budaya Bambu, Dudi Darma Bakti, memaparkan bahwa Pasar Wisata dirancang sebagai ruang terpadu yang menyatukan ragam potensi ekonomi kreatif masyarakat lokal.

​”Pasar Wisata ini dihadirkan sebagai ruang terpadu. Kita ingin menghubungkan kegiatan pariwisata dengan potensi ekonomi kreatif masyarakat, khususnya kuliner, kerajinan tangan, serta seni dan budaya. Ketiganya dikembangkan secara komprehensif sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman yang lengkap saat berkunjung ke Sukabumi,” ujar Dudi.

​Respon dan Dukungan Dinas Pariwisata

​Gagasan segar dari para pelaku usaha dan penggiat budaya ini mendapat sambutan hangat dari jajaran pemerintah daerah. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyatakan kesiapannya untuk mengawal ide pengembangan destinasi baru di wilayah pesisir.

Baca Juga  Polri Tetap di Bawah Presiden: Opung Bunga Ayu Bicara Soal Stabilitas dan Lingkungan

​”Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi menyambut baik dan menyetujui gagasan pengembangan Pasar Wisata Pelabuhan Ratu sebagai tambahan destinasi wisata baru di wilayah pesisir selatan Sukabumi,” tegas Ali Iskandar saat dihubungi.

​Ali menjelaskan, konsep Pasar Wisata sejalan dengan visi pengembangan pariwisata daerah yang mengintegrasikan keindahan alam dengan kekayaan ekonomi kreatif lokal.

​”Program Pasar Wisata dirancang sebagai wadah pengembangan berbagai subsektor ekonomi kreatif, khususnya kuliner, kerajinan tangan, serta seni dan budaya. Ketiga sektor tersebut diharapkan dapat terintegrasi dalam satu kawasan wisata yang mampu menghadirkan pengalaman lebih lengkap bagi wisatawan,” tutur Ali.

​”Dengan konsep tersebut, pengunjung tidak hanya menikmati panorama alam Pelabuhan Ratu, tetapi juga dapat mencicipi kuliner khas daerah, mengenal produk kerajinan lokal, serta menikmati pertunjukan seni dan budaya Sukabumi,” lanjutnya.

Hotel Bunga Ayu

​Menjelajah Empat Pantai Pilihan

​Guna menindaklanjuti wacana ini, Ali Iskandar mengungkapkan bahwa pihak dinas bersama para pemangku kepentingan mulai menginventarisasi empat lokasi potensial di sepanjang pesisir Palabuhanratu untuk masuk tahap kajian:

  • ​Pantai Karang Hawu
  • ​Pantai Sukawayana
  • ​Kawasan Pantai Istana Presiden
  • ​Pantai Gadobangkong

​Meski demikian, Ali menekankan bahwa penentuan lokasi akhir masih membutuhkan pendalaman komprehensif.

​”Dalam pembahasan awal, terdapat empat alternatif lokasi yang masuk kajian untuk pengembangan Pasar Wisata Pelabuhan Ratu. Meski demikian, keempat lokasi tersebut masih memerlukan kajian lebih lanjut. Setiap lokasi memiliki karakteristik, kondisi, serta tantangan tersendiri yang perlu diidentifikasi sebelum ditetapkan sebagai lokasi pengembangan,” pungkas Kadispar.

Baca Juga  Festival Eksplorasi Pariwisata Warnai Ulang Tahun ke-2 Goalpara Tea Park

​Langkah Konkret Industri: Souvenir Corner di Hotel

​Dukungan nyata juga disuarakan oleh para pengurus PHRI Kabupaten Sukabumi yang hadir, seperti Ibu Regata, Ibu Nurda, dan Bapak Asep Sandi. Industri perhotelan berkomitmen tak hanya menjadi penonton, tetapi ikut membukakan pintu bagi produk-produk UMKM lokal.

​Salah satu gagasan terobosan yang disiapkan PHRI adalah menghadirkan Souvenir Corner di setiap hotel di kawasan Palabuhanratu dan sekitarnya. Sudut cenderamata ini akan menjadi panggung promosi langsung bagi karya pengrajin Sukabumi kepada para tamu hotel.

​Pertemuan pada 28 Oktober 2026 tersebut memang baru menjadi pemantik awal. Namun, semangat kolaborasi antara pemerintah, komunitas budaya, dan pelaku industri perhotelan ini menjadi fondasi optimisme baru: bahwa pariwisata Sukabumi tak hanya sekadar bertahan, tetapi siap bangkit dan bergeliat kembali. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *