SUKABUMISATU.COM, Karawang – Jagat dunia pendidikan dan pers kembali diguncang kabar tak sedap. Anggota Komite SMPN 1 Jatisari Kabupaten Karawang bernama Salya mendadak jadi sorotan tajam setelah diduga melontarkan pernyataan yang dinilai melecehkan profesi jurnalis. Celakanya, ucapan bernada miring itu diarahkan kepada almarhum Amri Malau, seorang wartawan senior. Sabtu, (23/05/2026).
Salya dituding merendahkan dedikasi almarhum dengan menyebutnya sebagai “wartawan tidak jelas”. Tak hanya itu, ia juga mempertanyakan status Amri sebagai jurnalis maupun aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta menyinggung soal tidak adanya bukti karya tulis.
Pernyataan yang dinilai nir-empati ini sontak memantik reaksi keras dari berbagai kalangan, khususnya insan pers yang merasa profesinya diinjak-injak tanpa dasar data dan fakta yang valid.
Kepsek Pilih ‘Cuci Tangan’, Publik Berang
Ironisnya, alih-alih menjadi penengah atau mendinginkan suasana, Kepala SMPN 1 Jatisari, Tony Andika Aryawan, justru mengeluarkan respons yang memicu polemik baru. Saat dikonfirmasi, Tony seolah melempar batu sembunyi tangan.
”Kepala sekolah tidak bertanggung jawab atas pernyataan komite,” ujar Tony singkat.
Sikap “cuci tangan” sang kepala sekolah ini langsung menuai kecaman. Publik menilai, respons tersebut memperlihatkan rapuhnya etika kepemimpinan di institusi pendidikan. Bagaimanapun, komite sekolah adalah bagian integral yang melekat dengan nama baik dan marwah institusi sekolah di mata masyarakat.
Redaksi Sinar Suryanews Meradang: Kami Beri Waktu 2×24 Jam!
Pimpinan Redaksi Sinar Suryanews, Wattanasin Navretta, angkat bicara dan mengecam keras arogansi oknum komite tersebut. Menurut Wattanasin, apa yang dilontarkan Salya bukan sekadar menyerang profesi, melainkan telah melanggar batas etika kemanusiaan.
”Sesama manusia seharusnya memiliki empati, apalagi terhadap orang yang sudah meninggal. Pernyataan seperti itu sangat disayangkan,” tegas Wattanasin kepada Sukabumisatu.com. Sabtu, (30/05/2026).
Wattanasin membeberkan fakta bahwa almarhum Amri Malau bukanlah orang sembarangan di dunia pers. Almarhum adalah jurnalis senior yang telah puluhan tahun mendedikasikan hidupnya untuk menyuarakan informasi kepada publik. Kerja keras dan pengorbanan almarhum bahkan menjadi pilar penting bagi eksistensi Sinar Suryanews hingga hari ini.
Menyikapi hal ini, pihak redaksi mengambil langkah tegas dan melayangkan somasi terbuka.
”Kami memberikan waktu 2 x 24 jam kepada yang bersangkutan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas pernyataan yang dinilai telah melukai perasaan kami sebagai insan pers,” cetus Wattanasin meradang.
Pendidikan Harusnya Beretika, Bukan Memantik Kegaduhan
Lebih lanjut, Wattanasin mendesak Kepala SMPN 1 Jatisari tidak menutup mata dan segera mengambil sikap tegas atas blunder yang dilakukan anggotanya. Sekolah, sebagai episentrum pembentukan moral dan karakter, seharusnya tidak memberikan ruang bagi munculnya narasi yang memicu kegaduhan publik.
”Lembaga pendidikan semestinya menjadi contoh dalam menjaga etika dan moral. Karena itu, kami berharap persoalan ini dapat disikapi secara bijaksana dan bertanggung jawab,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim redaksi masih terus berupaya mengejar klarifikasi lebih lanjut dari pihak komite dan dinas pendidikan terkait. Ruang publik kini menunggu: apakah pihak sekolah akan terus bersembunyi di balik tameng “bukan tanggung jawab kami”, ataukah ada tindakan nyata demi menjaga marwah dunia pendidikan?












