SUKABUMISATU.com – Pesisir Selatan Sukabumi, mulai dari Cisolok hingga Tegalbuleud, menyimpan Legenda dan cerita. Bukan hanya soal keindahan wisatanya, namun soal ancaman Megathrust yang terus membayangi. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa leluhur Sunda telah meninggalkan “early warning system” lewat sosok Nyiratu?
Selama ini, Ratu Kidul kerap dianggap klenik. Namun, dalam kacamata Geomitologi, sosok ini adalah cara jenius leluhur merekam jejak bencana tsunami purba agar terus diingat oleh anak cucu lintas generasi.
Antartika: Singgasana Putih di Ujung Selatan?
Ada pandangan menarik yang berkembang di masyarakat: jika ditarik garis lurus dari bibir pantai Sukabumi ke arah selatan tanpa terputus, perjalanan itu akan berujung di Antartika. Daratan putih yang dingin dan tak tersentuh ini seolah menjadi wujud nyata dari “Istana Nyiratu” yang digambarkan megah di tengah samudra luas.
Secara sains, Antartika memang “penguasa” laut global. Jika es di sana mencair, “kehormatan” Nyiratu—yakni air laut—akan meluap dan menenggelamkan pesisir kita. Inilah jembatan antara mitos dan realita: Antartika adalah penjaga keseimbangan air dunia, sebagaimana Nyiratu yang dihormati sebagai penjaga samudra.
Gunung adalah Abah, Laut adalah Nyiratu
Masyarakat Sunda memandang alam sebagai keluarga. Gunung-gunung yang menjulang di Sukabumi adalah Abah (Bapak), sang pelindung dan pasak bumi. Sementara Laut Selatan adalah Nyiratu (Putri/Ibu), cermin kehormatan yang harus dirawat.
”Merawat laut sama artinya dengan menjaga harga diri kita sendiri. Jika laut rusak oleh sampah atau terumbu karang diambil, maka kehidupan kita ikut tercemar,” ungkap filosofi yang berkembang di masyarakat pesisir. Jika keseimbangan antara ‘Abah’ dan ‘Nyiratu’ terganggu, maka alam akan memberikan “teguran” keras.
Sains Megathrust: Tsunami 20 Meter Bukan Ramalan Kiamat
Faktanya, ancaman Megathrust Selat Sunda-Jawa adalah data ilmiah yang nyata. Berdasarkan riset BMKG dan para ahli geologi, pergerakan lempeng di depan kaki Sukabumi menyimpan energi yang bisa memicu tsunami setinggi 20 meter.
Di sinilah pentingnya kolaborasi antara kearifan lokal dan teknologi:
Mitos (Nyiratu): Memberikan ingatan jangka panjang dan rasa hormat agar kita selalu waspada pada kekuatan alam.
Sains: Memberikan jalur evakuasi, simulasi di sekolah-sekolah pesisir, dan sistem peringatan dini yang presisi.
Literasi Bencana: Menghargai Warisan, Menyelamatkan Nyawa
SukabumiSatu mengajak warga untuk tidak lagi memandang Ratu Kidul hanya sebagai urusan baju hijau atau ritual mistis. Memahami sosok Nyiratu berarti memahami bahwa kita hidup berdampingan dengan raksasa yang sedang tidur.
Menjaga kelestarian laut selatan dan menyiapkan mitigasi bencana sejak dini adalah bentuk penghormatan tertinggi kita kepada alam. Sebab, saat gempa hebat melanda dan laut mulai surut, Nyiratu sedang memberikan kode terakhirnya—dan hanya mereka yang siap yang akan selamat.
Penulis: Demi Pratama Adiputra








