​Rumah Jadi Puing, Jalan Jadi Jurang: Nestapa 475 Jiwa di Bantargadung yang Kini Tak Lagi Punya Tempat Pulang

Kondisi Kampung Cijambe Desa Bantargadung Kecamatan Bantargadung Sukabumi. Sabtu, (07/03/26).

SUKABUMISATU.com – Alam seolah sedang murka di Bantargadung. Hingga Sabtu (7/3/2026), hujan lebat bak ditumpahkan dari langit terus mengguyur wilayah Kabupaten Sukabumi tanpa ampun. Di bawah guyuran air yang tak kunjung henti, tanah di Desa Bantargadung dan Desa Bojonggaling terus bergerak turun—pelan tapi pasti—menelan apa pun yang berdiri di atasnya.

​Pemandangan di lokasi benar-benar menyayat hati. Bukan sekadar retak, rumah-rumah warga kini terbelah dua, memperlihatkan isi ruang tamu dan kamar tidur yang hancur berantakan. Tak hanya hunian, akses jalan utama pun terputus, aspalnya terangkat dan terbelah membentuk jurang-jurang kecil yang mematikan.

“Tanah Hidup” yang Tak Mau Berhenti

​Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Bantargadung, Sihabudin, melaporkan kondisi lapangan yang kian kritis. Suara gemertak bangunan yang patah bersahutan dengan suara rintik hujan yang mencekam.

​”Kondisinya sangat tidak bersahabat. Hujan terus turun, membuat tanah semakin jenuh dan lembek. Tanah ini seperti ‘hidup’, terus turun dan bergeser tiap jamnya. Jalan terbelah, rumah terbelah, bahkan tiang listrik mulai miring. Kami berpacu dengan waktu untuk memastikan semua warga sudah keluar dari zona merah,” ujar Sihabudin dengan raut wajah kelelahan.

Baca Juga  Tuding Alih Fungsi Lahan Jadi Pemicu Longsor, Warga Bantargadung Minta Proyek di Atas Bukit Dihentikan

Bupati Asep Japar: “Jangan Ada yang Bertahan di Zona Maut!”

​Melihat tanah yang terus amblas dan cuaca yang memburuk, Bupati Sukabumi H. Asep Japar mengeluarkan peringatan keras bagi warga yang masih mencoba menyelamatkan barang-barang di dalam rumah yang retak.

​”Saya minta dengan sangat, jangan ada lagi warga yang nekat masuk ke rumah yang sudah terbelah! Cuaca sedang sangat ekstrem, tanah masih terus turun. Harta bisa dicari, tapi nyawa tidak ada gantinya. Saya sudah perintahkan tim di lapangan untuk mengevakuasi paksa jika ada yang masih bertahan di zona maut tersebut,” tegas Kang Asjap saat meninjau titik pengungsian.

Nestapa di Balik Terpal: “Sujud di Atas Tanah yang Bergerak”

Baca Juga  Warga Cihurang Bantargadung ‘Ditembak’ Janji Relokasi, Bertahan di Antara Retakan Tanah yang Kian Menganga

​Di tengah suara hujan yang memekakkan telinga di atas atap tenda darurat, ratusan warga kini harus berpasrah diri. Menjalani ibadah puasa di tengah bencana adalah ujian yang teramat berat.

​Ibu Ai (55), salah satu pengungsi, menceritakan bagaimana rasanya berpuasa dalam ketakutan luar biasa.

​”Tiap kali hujan deras turun, kami di dalam tenda hanya bisa berdzikir. Takut kalau tanah di bawah tenda ini juga ikut amblas. Sahur dan buka puasa seadanya, hanya dengan nasi bungkus dingin dan air putih. Kami sujud di atas tanah yang sedang bergerak ini, hanya bisa minta perlindungan sama Allah,” lirih Rohayah sambil menatap nanar ke arah perkampungannya yang kini porak-poranda.

Data Terkini: Bantargadung Lumpuh

  • ​Total Rumah Terdampak: 114 Unit (70 Rusak Berat, 26 Rusak Sedang, 18 Rusak Ringan).
  • ​Jiwa Terancam: 475 Jiwa (407 Jiwa menetap di pengungsian).
  • ​Infrastruktur: Jalan desa terputus total, satu sekolah rusak parah.
  • ​Status: Tanggap Darurat (Hingga 10 Maret 2026).
Baca Juga  Satu Rumah di Girijaya Rusak Tertimpa Longsor Akibat Hujan Deras

​Hingga berita ini diturunkan, awan hitam masih menggantung pekat di langit Bantargadung. Ancaman longsor susulan dan pergeseran tanah yang lebih masif masih menghantui setiap detik napas para pengungsi.

Reporter: Demi Pratama Adiputra

Editor: Uga Khaeru Rabbani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *