Selasa,26 Mei 2026
Pukul: 04:18 WIB

Dari Bah Besar hingga Berkas Epstein: Ketika Mitologi Kuno Menjelma Skandal Modern

Dari Bah Besar hingga Berkas Epstein: Ketika Mitologi Kuno Menjelma Skandal Modern

Jumat, 6 Februari 2026
/ Pukul: 13:32 WIB
Jumat, 6 Februari 2026
Pukul 13:32 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Kang Warsa

Dunia lebih sering dikendalikan oleh orang-orang serakah, itu bukan sekadar sinisme, melainkan jejak panjang dalam sejarah peradaban manusia. Dari panggung politik hingga ruang-ruang kuasa tersembunyi, keserakahan kerap menjadi motor penggerak konflik dan penderitaan.

Karena itulah, dalam setiap zaman selalu lahir para cerdik pandai, filsuf, maharashi, nabi, dan rasul yang berfungsi sebagai penyeimbang. Mereka hadir untuk mengingatkan bahwa kerakusan adalah pangkal dari kikir, kesombongan, dan berbagai bentuk keburukan yang menggerogoti kemanusiaan.

Sejak lama para pemikir berbeda pendapat tentang tabiat dasar manusia. Ada yang beranggapan manusia lahir dengan naluri liar yang tak jauh dari binatang; ada pula keyakinan kuno yang menyebut manusia terlahir kembali ke dunia karena belum menuntaskan beban moral di kehidupan sebelumnya.

Konsep reinkarnasi atau samsara ini ditolak oleh agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun pertanyaan tentang hakikat kelanjutan hidup, apakah berpindah alam atau mengulang siklus dunia tetap menjadi misteri yang hanya hadir dalam bentuk pengabaran, bukan kepastian yang dialami langsung kecuali oleh mereka yang telah meninggal dunia.

Sebagian pandangan lain meyakini manusia lahir dalam keadaan polos, ibarat kertas putih. Lingkunganlah yang kemudian membentuknya menjadi terang atau gelap. Teori lingkungan (environmental theory) menekankan betapa kuatnya pengaruh situasi sosial dalam memoles watak manusia. Meskipun demikian, sejarah selalu menunjukkan pengecualian, ada yang tetap lurus di tengah lingkungan bengkok, dan ada pula yang menyimpang meski dibesarkan dalam nilai-nilai luhur.

Baca Juga  Manusia, Keserakahan, dan Alam yang Menyeimbangkan Dirinya

Publikasi jutaan berkas Jefrey Epstein oleh otoritas Amerika Serikat membuka babak baru skeptisisme terhadap elit global. Dokumen-dokumen itu menyeret nama tokoh berpengaruh yang selama ini tampil sebagai pembela kemanusiaan, namun diduga terlibat dalam jejaring kekejian, termasuk eksploitasi seksual terhadap anak di bawah umur. Skandal ini mengguncang persepsi publik tentang moralitas para pemegang kuasa, memperlihatkan jurang antara citra dan realitas.

Sebagian politisi dan tokoh berpengaruh yang disebut dalam pusaran kasus tersebut selama ini tampil populis, berbicara tentang perdamaian dan kemajuan dunia. Namun tudingan yang muncul menghadirkan potret kontras; kuasa yang disalahgunakan, relasi yang timpang, dan manipulasi atas nama kebaikan. Fenomena ini mengingatkan bahwa sejarah sering kali menyimpan paradoks, mereka yang tampak menyelamatkan dunia, belum tentu bersih dari luka yang mereka sebabkan.

Sebelum berkas-berkas itu dipublikasikan, saya membuat ungkapan sederhana; jangan terlalu mudah percaya kepada tokoh agama yang mengarahkan pada pilihan politik, dan jangan pula mudah percaya kepada politisi yang mendikte cara kita beribadah. Ketika batas moral dan kuasa saling bertukar peran, publik patut waspada. Moralitas yang diperalat untuk kepentingan politik, atau politik yang berselimut dalil agama, sering kali berujung pada manipulasi.

Baca Juga  Manusia, Keserakahan, dan Alam yang Menyeimbangkan Dirinya

Pertanyaan mendasarnya adalah sejak kapan manusia mulai menyimpang? Apakah sejak kisah Adam dan Hawa mendekati pohon larangan, yang dalam tradisi Semitik disebut sebagai dosa awal? Ataukah dualitas baik dan buruk memang inheren dalam perjalanan kesadaran manusia?

Menariknya, peradaban kuno di luar tradisi Semitik pun memuat kisah serupa. Mitologi Yunani, misalnya, menghadirkan dewa-dewi yang rakus, penuh intrik, bahkan terlibat skandal dengan manusia. Zeus kerap digambarkan menjalin relasi dengan perempuan fana hingga melahirkan makhluk setengah dewa. Gambaran ini bisa dibaca sebagai proyeksi imajinasi manusia terhadap penyimpangan para penguasa yang mengklaim diri sebagai keturunan dewa.

Dalam banyak kebudayaan kuno, penguasa sering menjustifikasi kekuasaan dengan mengaku sebagai representasi dewa. Namun di balik legitimasi sakral itu, tersimpan praktik penindasan dan eksploitasi. Kejahatan seksual, perampasan hasil panen, hingga penumpukan kekayaan di tangan segelintir elit bukanlah cerita baru. Ia berulang dari zaman ke zaman, hanya berganti wajah dan persona.

Kisah bah besar sekitar 4.000 SM dalam cerita Nuh (Noah) dan Epos Gilgamesh menjadi simbol koreksi kosmis terhadap keserakahan manusia. Dalam versi Mesopotamia, Utnapishtim diperingatkan oleh Enki tentang murka para dewa yang hendak menenggelamkan umat manusia. Dalam tradisi biblikal, Nuh mendapat wahyu tentang banjir sebagai jawaban atas kerusakan moral manusia. Terlepas dari perbedaan teologis, keduanya menyiratkan pesan yang sama bahwa keserakahan kolektif mengundang kehancuran.

Baca Juga  Manusia, Keserakahan, dan Alam yang Menyeimbangkan Dirinya

Sejak revolusi pertanian 10.000–4.000 SM, manusia belajar menetap, menanam, dan beternak demi keberlangsungan hidup. Pada awalnya, kerja kolektif dilakukan demi kebaikan bersama. Namun seiring waktu, muncul godaan untuk menguasai hasil kerja orang lain; lebih mudah merampas daripada menanam. Dari sinilah lahir dominasi, hierarki, dan akumulasi kuasa yang berujung pada keserakahan.

Dalam konteks itu, skandal Epstein bukan anomali, melainkan cermin modern dari pola lama, kuasa yang tak diawasi cenderung menyimpang. Dunia memang sering tampak dikendalikan oleh mereka yang pandai memoles citra, sementara kepentingan tersembunyi bergerak di balik layar. Walakin sejarah juga mencatat selalu ada kelompok manusia yang memilih jalan lurus meski tak selalu terlihat, mereka menjaga nyala etika di tengah gelapnya ambisi.

Leluhur di Tatar Sunda mengingatkan, “Sing asak-asak nenjo bisi kaduhung jagana”—lihatlah dengan saksama agar tidak menyesal kemudian. Dalam hiruk-pikuk informasi dan gemerlap elit global, kewaspadaan moral menjadi keharusan. Karena dari dunia kuno hingga era digital, pelajarannya tetap sama yaitu keserakahan yang dibiarkan tanpa koreksi hanya akan mengulang siklus kehancuran yang pernah terjadi sebelumnya.

Related Posts

Add New Playlist

Contact Person:
+62856-9788-7574 (HP/WA)