SUKABUMISATU.com – Di saat jutaan remaja seusianya masih berjibaku dengan mahalnya uang kuliah tunggal (UKT) atau antre di bursa kerja demi upah minimum, Yasika Aulia Ramadhani (20) justru sudah memimpin imperium bisnis bernilai miliaran rupiah. Mahasiswi Universitas Ciputra ini menjadi sorotan nasional setelah tercatat mengelola puluhan unit dapur dalam program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sulawesi Selatan.
Bukan angka main-main, Yasika melalui Yayasan Yasika Group dilaporkan mengendalikan 41 unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan estimasi biaya pembangunan Rp1,5 miliar per unit, total aset yang dikelolanya mencapai angka fantastis: Rp61,5 miliar.
Kontras Tajam: Antara Privilege dan Perjuangan Kaki Lima
Fenomena Yasika menciptakan potret kontras yang menyengat di tengah masyarakat. Di satu sisi, kita melihat seorang mahasiswi muda yang dengan mudahnya menggerakkan investasi puluhan miliar. Di sisi lain, ribuan anak muda di pelosok negeri, termasuk di Jawa Barat dan Sulawesi, jangankan bermimpi memiliki 41 dapur, untuk modal usaha kecil-kecilan atau sekadar melunasi tunggakan pendidikan saja harus berdarah-darah.
Kesenjangan ini memicu perdebatan mengenai akses modal. Jika remaja biasa harus melewati birokrasi bank yang rumit dan agunan yang mencekik, Yasika seolah melenggang di “jalur prestasi” yang berbeda.
Pewaris di Jalur Strategis?
Tak bisa dimungkiri, nama besar sang ayah, Yasir Machmud—Wakil Ketua DPRD Sulsel sekaligus politisi Gerindra—membayangi kesuksesan kilat ini. Publik pun mulai melabeli fenomena ini sebagai potret nyata dari slogan “Pewaris Bukan Perintis”.
Meski pihak keluarga mengklaim ini adalah bentuk kontribusi bagi gizi anak bangsa, sulit bagi publik untuk tidak melihat adanya “karpet merah” politik di balik penunjukan yayasannya. Di saat aturan Badan Gizi Nasional (BGN) kabarnya membatasi 10 dapur per yayasan, Yasika Group justru melesat hingga 41 unit.
Mesin Uang dari Piring Sekolah
Secara matematis, mengelola 41 dapur berarti melayani sekitar 123.000 porsi makan setiap hari. Dengan asumsi keuntungan bersih yang sangat minim sekalipun, yakni Rp2.000 per porsi, Yasika berpotensi meraup laba Rp246 juta per hari.
Pendapatan harian yang setara dengan harga satu unit mobil baru ini didapat di saat banyak pemuda seusianya masih harus memutar otak untuk sekadar membeli kuota internet atau membayar kos-kosan.
Potret Yasika Aulia menjadi pengingat keras bagi publik: Bahwa dalam ekosistem bisnis yang berkelindan dengan proyek negara, garis tangan seringkali ditentukan oleh siapa orang tua Anda, bukan sekadar seberapa keras Anda merintis dari bawah. (Demi Pratama Adiputra)








