SUKABUMISATU.com — Warga Kampung Warungkiara kembali digegerkan oleh rangkaian perkembangan terbaru terkait penemuan bayi perempuan di sebuah pos ronda pada Minggu (16/11/2025), sekitar pukul 18.30 WIB, tak lama setelah salat Magrib berlangsung.
Kepala Desa Warungkiara, Ade Suherdi, menjelaskan bahwa suara tangis bayi itu pertama kali didengar oleh warga yang langsung melapor kepada pihak desa.
“Pada sekitar pukul 18.30 selepas Magrib, warga digegerkan suara tangis bayi di pos ronda dan akhirnya ditemukan sosok bayi perempuan,” ujar Ade.
Tak lama setelah laporan diterima, petugas dari Puskesmas Warungkiara tiba di lokasi dan segera membawa bayi tersebut untuk mendapatkan pemeriksaan medis.
“Alhamdulillah, hasil pemeriksaan menyatakan bayi dalam kondisi sehat,” jelas Ade.
Ade menambahkan bahwa pihak desa bersama unsur Muspika langsung menggelar musyawarah untuk menentukan langkah penanganan sementara, termasuk siapa yang akan mengurus bayi tersebut selama proses penyelidikan berjalan.
Informasi mengenai penemuan bayi yang cepat menyebar melalui media sosial dan grup pesan singkat membuat banyak warga datang menawarkan diri untuk mengadopsi bayi itu.
Namun pihak desa menegaskan bahwa keputusan mengenai hal tersebut baru bisa diambil setelah aparat kepolisian menyelesaikan penyelidikan mengenai latar belakang dan identitas pihak yang meninggalkan bayi.
“Ada hamba Allah yang rela mengurus bayi ini, bahkan bersedia menginap. Tapi kami belum memutuskan apa pun. Kita tunggu proses penyelidikan dulu. Mudah-mudahan tiga hari ke depan ada perkembangan,” ujar Ade.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Warungkiara, Hudrimi, mengungkapkan bahwa bayi tiba di puskesmas sekitar pukul 19.30 WIB dan langsung diperiksa oleh tim bidan karena dokter sedang dalam status on call.
“Alhamdulillah bayi sehat, refleks isapnya bagus, dan warna kulitnya merah. Hanya saja berat badan menjadi kekhawatiran kami. Beratnya hanya 2.200 gram, padahal normalnya 2.500 gram,” jelas Hudrimi.
Karena berat badan di bawah standar, bayi tersebut kini menjalani observasi intensif di ruang PONED, sambil menunggu pemeriksaan lanjutan dari dokter.
Sesuai SOP, bayi yang ditemukan biasanya diobservasi minimal tiga hari. Hudrimi juga menyebutkan bahwa banyak warga yang datang ingin mengadopsi bayi, namun pihak puskesmas dan Forkopimcam sepakat menunda proses tersebut demi keamanan dan kepastian hukum.
“Kepolisian meminta agar bayi dipelihara dulu dengan baik. Dikhawatirkan nanti ada pihak lain yang datang mengaku, sehingga bisa menimbulkan perselisihan,” katanya.
Dugaan Bayi Dilahirkan oleh Tenaga Medis
Berdasarkan pengamatan tim medis, tali pusat bayi tampak terpotong rapi dan menggunakan umbilical clamp, sehingga besar kemungkinan bayi dilahirkan di fasilitas kesehatan atau oleh tenaga medis.
Bidan memperkirakan usia bayi saat ditemukan berada pada rentang dua hingga tiga hari.
Hudrimi menambahkan, dari tanda-tanda fisik, bayi kemungkinan tidak diberi ASI atau susu dalam waktu cukup lama.
“Sepertinya bayi tidak diberi minum atau ASI sehingga berat badannya menurun. Mungkin susu belum tersedia, lalu bayi ditinggalkan,” ujarnya.
Kini, bayi perempuan tersebut masih berada dalam perawatan intensif Puskesmas Warungkiara sambil menunggu hasil penyelidikan kepolisian serta keputusan resmi terkait penanganannya ke depan.
Reporter: Mawaldi
Editor: Demi Pratama Adiputra











