SUKABUMISATU.com – Tangan kecil itu menggenggam pensil tumpul, menuliskan huruf demi huruf di buku lusuh yang hampir basah. Di atas kepalanya, plafon retak menggantung, sebagian bolong, seakan siap jatuh kapan saja. Namun, tatapan mata anak-anak MTs Miftahul Barokah di Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, tetap tertuju pada papan tulis yang tulisannya nyaris pudar.
“Kadang takut, Bu. Kalau hujan suka keluar kelas dulu,” ujar salah seorang siswa pelan, menatap ke arah dinding retak di ruang kelas, Senin (8/9/2025).
Antara Belajar dan Rasa Takut
Bangunan madrasah ini sebenarnya sudah dinyatakan berbahaya pasca pergerakan tanah pada Desember 2024. BNPB dan BPBD menyarankan aktivitas belajar dihentikan. Tetapi anak-anak terpaksa kembali ke ruang kelas yang retak-retak, setelah tenda darurat di halaman sekolah tak lagi layak dipakai.
Setiap hari, mereka belajar dengan waswas. Hujan deras berarti risiko genting jatuh. Angin kencang berarti bayangan tembok roboh. Namun, buku dan papan tulis tetap mereka hadapi.
“Kalau hujan, mereka suka ngungsi keluar kelas. Tapi habis itu balik lagi. Mereka tetap ingin belajar,” kata Usup Supriatman, guru MTs.
Sekolah yang Kian Sepi
Dulu, MTs Miftahul Barokah ramai oleh puluhan anak dan ratusan santri pondok pesantren. Kini, jumlah siswa terus menurun. Di RA hanya 35 anak, MTs 57 siswa, dan santri pesantren tinggal 59 orang. Banyak orang tua ragu mendaftarkan anaknya karena takut bangunan ambruk.
“Anak-anak bingung, orang tua juga ragu. Tapi bagi yang masih bertahan, mereka tetap datang. Itu yang bikin saya sedih sekaligus bangga,” tutur Lela Helmiah, pimpinan Ponpes sekaligus guru RA.
Menunggu Uluran Tangan
Upaya mencari bantuan sudah dilakukan. Yayasan mendatangi anggota dewan hingga ke Bandung. Namun, hingga kini belum ada jawaban. Pemerintah memang menyiapkan hunian sementara untuk warga terdampak, tapi sekolah tidak masuk prioritas relokasi.
Sementara itu, anak-anak masih datang setiap pagi, duduk di kursi plastik, menulis di meja kayu yang penuh coretan, membaca pelajaran dengan suara lirih. Di antara retakan dinding dan plafon rapuh, semangat mereka seolah tak kalah kuat.
“Harapan kami cuma satu, ada tempat belajar yang aman dan nyaman untuk anak-anak. Mereka berhak mendapatkannya,” pungkas Lela.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra







