Jumat,17 April 2026
Pukul: 23:58 WIB

Ketimpangan Sosial Masih Nyata, Keluarga Miskin di Sukabumi Hidup Dalam Gelap

Ketimpangan Sosial Masih Nyata, Keluarga Miskin di Sukabumi Hidup Dalam Gelap

Senin, 1 September 2025
/ Pukul: 11:29 WIB
Senin, 1 September 2025
Pukul 11:29 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Di tengah narasi pembangunan dan geliat pariwisata, Kabupaten Sukabumi masih menyimpan wajah buram kemiskinan. Pasangan suami istri Misjo dan Teti, warga Desa Tenjojaya, Kecamatan Cibadak, bersama anak mereka, hidup dalam rumah bilik bambu reyot tanpa penerangan listrik selama lebih dari tiga tahun.

 

Setiap malam, keluarga ini hanya ditemani cahaya pelita minyak tanah dan lilin. Rumah kecil mereka berdiri di tengah kebun, jauh dari pemukiman warga, dengan akses jalan setapak licin dan gelap. Kondisi ini membuat kehidupan mereka terisolasi, seolah terpinggirkan dari denyut pembangunan.

“Kalau malam gelap sekali, sudah biasa tanpa lampu. Harapannya cuma ingin ada penerangan, biar anak juga tidak hidup dalam kegelapan,” tutur Teti lirih.

Baca Juga  Pelatihan Ketua PKH Cibadak, Fokus pada Kemandirian KPM

 

Data Kontras: Angka Turun, Realita Buram

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Sukabumi, angka kemiskinan tahun 2024 tercatat 6,87%, setara dengan lebih dari 180 ribu jiwa. Secara statistik angka ini menurun, tetapi kasus seperti Misjo dan Teti membuktikan bahwa penurunan di atas kertas tidak otomatis berarti hilangnya jurang ketimpangan di lapangan.

 

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sukabumi masih berada di angka 0,689, kategori sedang. Artinya, kualitas pendidikan, kesehatan, dan akses fasilitas dasar warga belum setara dengan daerah lain di Jawa Barat.

Baca Juga  Hidup dalam Gelap: Kisah Sebuah Keluarga Miskin di Sukabumi

 

Ketimpangan Sosial yang Menjadi Luka Lama

Forum Warga Sukabumi (FWS) menilai pemerintah daerah belum benar-benar menyentuh lapisan terbawah masyarakat. “Ini soal hak dasar warga negara. Bagaimana mungkin masih ada keluarga di Sukabumi hidup tanpa listrik? Minimal pasang solar cell atau jaringan listrik murah. Jangan biarkan mereka bertahan dalam gelap,” tegas Herman Ahong, Ketua FWS.

 

Pemerintah Kecamatan Cibadak sendiri mengklaim sudah melakukan asesmen dan mengajukan bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu). Namun, masyarakat menilai langkah ini terlambat. Selama tiga tahun lebih, keluarga ini sudah menanggung hidup tanpa penerangan, sementara laporan administrasi baru bergulir belakangan.

Baca Juga  Di Tengah Isu Efisiensi, Dinsos Kabupaten Sukabumi Alokasikan Rp759 Juta Hanya untuk Stiker Hologram PBI APBD

 

Potret Buram Sukabumi

Kisah Misjo dan Teti adalah potret kecil dari problem besar: ketimpangan sosial di Kabupaten Sukabumi. Di satu sisi, kota dan kawasan wisata berkembang, jalan tol dibangun, dan investasi digencarkan. Di sisi lain, masih ada warga yang tidur dalam kegelapan, menunggu uluran tangan.

 

Pembangunan tanpa pemerataan hanyalah menambah jurang ketidakadilan. Kabupaten Sukabumi masih punya pekerjaan rumah besar: memastikan bahwa tidak ada lagi warganya yang hidup dalam rumah reyot, tanpa listrik, di tengah janji modernisasi. (Redaksi)

Related Posts

Add New Playlist