SUKABUMISATU.com – Di bawah terik matahari dan dinginnya angin malam, langkah itu terus bergerak pelan. Tertatih, menyusuri jalan demi jalan, kampung demi kampung. Di tangannya, tergenggam bola—hasil jahitan tangannya sendiri. Bagi orang lain, bola mungkin hanya mainan. Tapi bagi Sandi, bola adalah nyawa, harapan, dan satu-satunya jalan untuk menghidupi sang ibu.
Sandi, warga Kampung Bojong Kawung, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, adalah anak kedua dari lima bersaudara. Sejak lama ia hanya tinggal berdua bersama ibunya, setelah sang ayah meninggal dunia. Adik bungsunya bahkan harus dititipkan kepada kerabat, karena keluarga ini tak mampu mengurus bersama-sama.
Keterbatasan fisik tak menghentikan langkah Sandi. Sejak 2003, ia belajar menjahit bola dari tetangganya, almarhum Bapak Ganda dan Bapak Asep. Setiap bola ia jahit dengan sabar—empat jam waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu bola. Dalam sehari, ia mampu membuat empat buah.
Dari pengepul, Sandi hanya menerima Rp7.000 per bola. Untuk menambah penghasilan, ia menjual langsung kepada pembeli dengan harga Rp70.000 hingga Rp100.000 per buah, meski keuntungan bersih yang ia kantongi hanya sekitar Rp10.000 per bola.
“Usaha ini sudah saya jalani sejak kecil. Terpaksa, karena memang tidak ada keterampilan lain yang saya punya. Semua ini saya lakukan untuk membiayai ema,” ucapnya lirih.
Penghasilannya yang kecil itu digunakan untuk membeli beras, kecap, atau kerupuk. Namun tak jarang, uang itu pun tak cukup. “Saya dan ibu sering tidak makan, karena tidak ada beras. Kami terpaksa hanya minum dan berpuasa,” tuturnya menahan air mata.
Perjuangan Sandi tak berhenti di situ. Ia sering berjalan jauh hingga ke Stasiun Karang Tengah untuk menawarkan bola. Pulang pergi dengan langkah tertatih, kadang pulang tanpa membawa hasil.
Sang ibu, yang kini sakit lambung dan tekanan darah tinggi, hanya bisa terbaring di rumah. “Walaupun Sandi punya keterbatasan fisik, dia tetap berusaha. Dia yang menyambung hidup saya,” ujar sang ibu dengan mata berkaca-kaca.
Kondisi mereka semakin sulit karena sumur di rumah telah lama kering. Air bersih menjadi barang mahal yang tak selalu ada.
Meski hidup dalam serba kekurangan, Sandi tak pernah menyerah. Harapannya sederhana—memiliki modal untuk mengembangkan usaha agar ia tak hanya bergantung pada menjahit bola. “Yang penting ema sehat, itu saja sudah cukup,” katanya.
Di tengah derasnya arus kehidupan, kisah Sandi mengingatkan bahwa cinta seorang anak untuk ibunya bisa menjadi tenaga yang mengalahkan lapar, lelah, dan jarak. Bagi Sandi, setiap bola yang ia jahit adalah doa yang ia rajut, berharap esok lebih baik bagi dirinya dan terutama bagi sang ibu.
Reporter: Suhendi Soex
Editor: Demi Pratama Adiputra











