SUKABUMISATU.com — Suara sirine peringatan dini tsunami menggetarkan kawasan Palabuhanratu dan sekitarnya pada Rabu (26/11/2025). Meski sempat membuat sebagian warga bertanya-tanya, bunyi sirine tersebut merupakan bagian dari uji aktivasi sistem peringatan dini yang digelar Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi.
Pengujian ini dilakukan untuk memastikan seluruh perangkat peringatan dini tsunami berfungsi optimal apabila bencana sewaktu-waktu terjadi di wilayah pesisir selatan Sukabumi.
Manager Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Entis Daeng Sutisna, menyampaikan bahwa tes sirine dilaksanakan terpusat dari ruang utama Pusdalops dengan pemantauan di lima titik lokasi. Hasilnya, seluruh sistem dinyatakan bekerja dengan baik tanpa kendala.
“Tes aktivasi ini penting untuk memastikan kesiapsiagaan. Semua device berbunyi dengan sempurna, baik di pusat kontrol maupun titik pantai,” ujarnya.
Adapun hasil pengecekan di setiap titik sebagai berikut:
1. Ruang Utama Pusdalops BPBD Sukabumi
Status: Baik dan berfungsi normal.
2. Site SDKP
Sistem: Online
Kondisi lapangan: Alat berbunyi normal, tidak ditemukan gangguan.
3. Site Balawista
Sistem: Online
Kondisi lapangan: Alat aktif, berfungsi baik.
4. Site Geopark
Sistem: Online
Kondisi lapangan: Sirine berbunyi tanpa kendala.
5. Kelurahan Palabuhanratu
Sistem: Online
Kondisi lapangan: Berfungsi normal.
6. Pantai Loji Simpenan
Sistem: Online
Kondisi lapangan: Alat merespons dengan baik.
Menurut Entis, pengujian berkala seperti ini menjadi kunci untuk memastikan kesiapsiagaan Kabupaten Sukabumi dalam menghadapi potensi bencana megatsunami yang sewaktu-waktu bisa terjadi akibat aktivitas tektonik di selatan Jawa.
“Kami memastikan masyarakat tidak panik. Ini bagian dari upaya BPBD untuk menjaga sistem tetap siap dan responsif,” tambahnya.
BPBD juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan memahami bahwa suara sirine yang terdengar merupakan bagian dari prosedur peningkatan kapasitas mitigasi bencana.
Dengan seluruh titik sirine berfungsi optimal, Kabupaten Sukabumi dipastikan lebih siap menghadapi ancaman bencana, terutama di kawasan pesisir yang memiliki risiko tinggi.
Editor: Demi Pratama Adiputra







