CIBADAK, SUKABUMISATU.com — Dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional, Sentra Phalamartha Sukabumi di bawah naungan Kementerian Sosial menggelar kegiatan edukasi pembuatan Batik Ciprat bersama siswa-siswi RA Luqmanul Hakim dan Pengurus Cabang Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PC IGRA) Kecamatan Cibadak. Jumat, (02/10/26).
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk melestarikan warisan budaya bangsa sekaligus mengenalkan karya inklusif warga binaan penerima manfaat di Sentra Phalamartha.
Kepala Sentra Phalamartha: Pelatihan Inklusif dan Pemberdayaan Ekonomi
Kepala Sentra Phalamartha Sukabumi, Febraldi, menyampaikan bahwa kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan edukasi publik sekaligus memakmurkan kegiatan di dalam sentra. Pelatihan Batik Ciprat merupakan salah satu program keterampilan vokasional dan kewirausahaan yang dikembangkan oleh Kementerian Sosial.
“Hari ini kami bekerja sama dengan TK Raudhatul Athfal Luqmanul Hakim untuk mengenalkan batik ciprat kepada anak-anak. Pelatihan ini kami berikan tidak hanya untuk pelayanan di dalam sentra, tetapi juga masyarakat luas, sekolah, maupun lembaga sosial. Seluruh akses pelatihan di Sentra Phalamartha gratis tanpa dipungut biaya,” ujar Febraldi.
Febraldi menambahkan, Batik Ciprat karya warga binaan telah memiliki pangsa pasar nasional yang kuat. Hal ini didukung oleh Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos) yang mewajibkan seluruh pegawai Kementerian Sosial mengenakan Batik Ciprat setiap hari Selasa.
“Produk batik kami sudah terjual ke berbagai wilayah Indonesia, seperti Jawa Timur, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Kami berharap program kewirausahaan vokasional ini terus memberikan dampak nyata pada kemandirian dan keberdayaan ekonomi masyarakat,” jelas Febraldi.

Instruktur Phalamartha: Pendampingan Warga Binaan Mampu Hasilkan Ribuan Karya
Instruktur Batik Ciprat Sentra Phalamartha, Edeh Ruqoyah, menjelaskan proses kreatif di balik pembuatan batik tersebut. Setiap hari kerja, para instruktur mendampingi warga binaan—termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ)—mulai dari menyiapkan kain putih hingga menjadi kain batik bernilai seni tinggi.
“Semua proses dikerjakan bersama-sama, dari membuat pola, mencipratkan lilin, pewarnaan, hingga pencucian. Walaupun dalam prosesnya ada dinamika seperti shading atau variasi warna, itu tetap bisa diperbaiki dan hasilnya justru semakin bagus,” terang Edeh.
Edeh mengungkapkan, sejak diproduksi kurang lebih dua tahun lalu, Phalamartha telah mencetak lebih dari 1.000 lembar kain batik. Produk ini dijual dalam dua ragam kain dengan ukuran panjang 2,15 meter dan lebar 1,25 meter:
* Bahan Mori: Rp155.000
* Bahan Primissima: Rp180.000 (bahan lebih tebal dan adem)
“Dinamakan Batik Ciprat karena teknik buatnya memang diciprat-cipratkan. Kami sangat terbuka bagi sekolah atau lembaga mana saja yang ingin datang dan belajar membuat batik di sini,” tambahnya.
Ketua PC IGRA Cibadak: Apresiasi Edukasi Batik Bagi Anak Usia Dini
Ketua PC IGRA Kecamatan Cibadak, Lia Muhafilah, S.Pd.I, yang hadir memenuhi undangan RA Luqmanul Hakim, menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan kolaboratif ini. Menurutnya, mengenalkan batik kepada anak-anak sejak usia dini penting agar mereka tidak hanya memakai, tetapi juga memahami proses pembuatannya.
“Anak-anak dan para guru sangat antusias dan bahagia bisa mencoba langsung proses pembuatan Batik Ciprat. Ini memberi pengalaman berharga dan menambah wawasan anak-anak,” tutur Lia.
Melihat respon positif serta sambutan hangat dari pihak Phalamartha, Lia berkomitmen untuk mendorong lembaga RA lainnya di Kecamatan Cibadak untuk mengadakan kegiatan serupa.
“Pihak Phalamartha sangat welcome memfasilitasi sekolah yang ingin berkunjung. Insya Allah ke depan kami dari PC IGRA akan membawa lembaga RA lainnya untuk belajar ke Sentra Phalamartha agar kegiatan positif ini terus berlanjut,” pungkasnya.
Sinergi antara lembaga pelayanan sosial Kementerian Sosial dan dunia pendidikan anak usia dini ini membuktikan bahwa peringatan Hari Batik Nasional tidak sekadar seremonial, tetapi menjadi wadah edukasi budaya sekaligus wujud kepedulian terhadap pemberdayaan sosial masyarakat.
Reporter: Suhendi Soex












