Dari Rutilahu hingga Senyum Kaum Dhuafa: Napas Kemanusiaan AKBP Benny Cahyadi di Sukabumi

Kapolres Sukabumi AKBP Benny Cahyadi saat bercengkrama dengan para pengemudi Ojek Pangkalan.

SUKABUMISATU.com — Jabatan boleh berganti, wilayah pengabdian pun terus berpindah. Namun, ketulusan tangan yang merentang menolong sesama membuktikan bahwa empati tak pernah mengenal sekat birokrasi. Inilah napas pengabdian yang melekat pada diri AKBP Benny Cahyadi, sosok Kapolres Sukabumi yang memilih berjalan di jalur sunyi: melayani dengan hati, bekerja tanpa gaduh.

​Jejak langkah kepeduliannya bukan cerita baru. Jauh sebelum menakhodai Polres Sukabumi, rekam jejak kemanusiaannya telah membekas di tanah Cianjur hingga Bogor.

​Di balik gagahnya seragam kepolisian serta beratnya tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban, tersimpan ketukan nurani yang senantiasa peka. Hari-hari AKBP Benny kerap diisi dengan memeluk mereka yang terpinggirkan—mulai dari merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), menyambangi para lanjut usia yang hidup sebatang kara, menebar senyum lewat santunan anak yatim, hingga merajut asa warga lewat renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu).

​Tak hanya urusan tempat tinggal, sentuhan tangannya turut merambah kebaikan di ruang-ruang pengajian hingga perbaikan infrastruktur jalan desa yang lama dinantikan warga.

​Namun, ada prinsip unik yang dipegang teguh oleh perwira menengah melati dua ini. Di era ketika semua hal berlomba-lomba untuk viral, AKBP Benny justru memilih sebaliknya: ia enggan setiap aksi kemanusiaannya menjadi konsumsi publik di media sosial maupun berita.

Baca Juga  Dibedah Sampai 'Full Furniture', Penerima Manfaat di Sukabumi: Tinggal Bawa Baju, Dalamnya Komplit!

​Baginya, panggung kepedulian bukanlah ruang untuk mendulang popularitas atau mencari pujian.

​”Saya menjadi Kapolres bukan untuk memperkaya diri. Saya sangat setuju dengan slogan Polri, Polisi Bersama Masyarakat. Jabatan ini adalah amanah dan harus bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” tutur AKBP Benny.

​Ia pun blak-blakan mengungkap alasan di balik keengganannya mengekspos kegiatan sosial yang dilakukan. “Kenapa dari dulu saya tidak mau kegiatan seperti ini di-up melalui berita maupun media sosial? Karena saya merasa tidak perlu semuanya diketahui orang. Cukup Allah SWT yang mengetahui apa yang kita lakukan. Kalau kita bisa membantu orang lain, lakukan saja dengan ikhlas,” imbuhnya.

​Prinsip ini sekaligus menjadi cerminan bahwa nilai luhur kebaikan sejati tidak diukur dari riuhnya tepuk tangan atau seberapa banyak pasang mata yang menyaksikan, melainkan dari kelegaan nyata di dada mereka yang ditolong.

​Bisik-bisik kebaikan yang dilakukan dalam diam itu pada akhirnya tetap menemukan jalannya untuk terdengar. Di wilayah Pajampangan, apresiasi hangat datang dari tokoh masyarakat setempat, H. Yudi Pratama, yang akrab disapa Peci Merah.

​Menurut H. Yudi, apa yang ditunjukkan AKBP Beni Cahyadi di tengah masyarakat Pajampangan dan sekitarnya adalah sebuah ketulusan yang nyata dan pantas diapresiasi tinggi.

Baca Juga  Gebrakan Baru Polres Sukabumi! Kompol Aah Jabat Kabag Ops, Belasan PJU dan Kapolsek Digeser

​”Dari yang saya tahu, orang yang sering membantu umat dan masyarakat seperti Pak Beni Cahyadi ini memang patut kita apresiasi. Beliau tidak hanya memperhatikan persoalan keamanan, tetapi juga peduli terhadap kebutuhan masyarakat. Mulai dari membantu kegiatan pengajian, pembangunan jalan, hingga berbagai kebutuhan sosial lainnya,” ujar H. Yudi.

​Ia menilai, esensi kehadiran seorang pejabat di tengah masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui gebrakan megah. Kepedulian kecil, kesediaan meluangkan waktu, tenaga, serta empati tulus saat warga menghadapi kesulitan justru memiliki arti yang jauh lebih dalam.

​”Saya melihat sendiri bagaimana bantuan dan kepedulian itu dirasakan masyarakat. Bagi saya, ketika ada orang yang mau meluangkan waktu, tenaga, bahkan membantu secara materi untuk kepentingan umat, tentu itu sesuatu yang patut dihargai. Semoga kepedulian seperti ini terus berlanjut,” sambungnya.

​Jabatan Adalah Amanah, Kebaikan Adalah Jejak yang Tertinggal

​Kisah pengabdian AKBP Beni Cahyadi menyadarkan kita bahwa tugas seorang insan Bhayangkara jauh melampaui batas-batas penegakan hukum dan patroli malam. Ada dimensi kemanusiaan yang teramat luas ketika seorang aparat kepolisian mau merendahkan hati, mendengarkan rintihan rakyat kecil, dan hadir sebagai solusi atas pelik kehidupan mereka.

Baca Juga  Menyusuri Jejak Kebaikan Brigadir Akka: Dari Sekolah Gratis Kini Hadirkan 'Pesantren Mobile' untuk Anak Pelosok Cisolok

​Sebab, bagi warga akar rumput, dinding rumah yang kembali kokoh, uluran tangan untuk anak yatim, senyuman seorang lansia, atau akses jalan yang kembali mulus bukanlah sekadar fasilitas fisik. Itu adalah wujud nyata dari harapan baru yang menyalakan kembali optimisme hidup.

​Pada akhirnya, manusia mungkin akan lupa pada deretan kata-kata indah yang pernah terucap. Namun, kebaikan yang tulus dirasakan dari hati ke hati akan selalu abadi.

​Di luar sana, selalu ada pilihan: menjadi orang yang berbuat baik demi sekadar dikenal nama, atau memilih melangkah dalam sunyi, bekerja dalam diam, tanpa sorotan kamera dan tanpa tepuk tangan—meninggalkan jejak kebaikan yang abadi untuk umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *