Indeks

Air Sungai Cikaso Keruh Berlumpur Akibat Tambang Liar, Warga Lengkong dan Kalibunder Khawatir Zat Kimia

SUKABUMISATU.com, 12 September 2026 – Kondisi aliran Sungai Cikaso di wilayah Kecamatan Lengkong hingga Kalibunder, Kabupaten Sukabumi, semakin memprihatinkan.Di tengah musim kemarau yang membuat debit air menyusut, kondisi air sungai kini berubah menjadi sangat keruh dan penuh lumpur akibat maraknya aktivitas penambangan emas liar (deplang).

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Sabtu (12/9/2026), aliran sungai yang mengarah ke daerah Cibungur, Leuwi Sintok, Cikaler, Cimapag, dan sekitarnya tampak dangkal dan berwarna cokelat pekat.

Padahal, warga di kawasan hilir sangat bergantung pada aliran air sungai ini untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari karena sumur-sumur warga mulai mengering.

Ujang, salah seorang warga Lengkong, menuturkan bahwa kekeruhan air sungai ini murni disebabkan oleh ulah para penambang gelap yang tidak bertanggung jawab.”Seperti inilah saat ini kondisi aliran sungai wilayah Lengkong yang mengarah ke daerah Cibungur, Leuwi Sintok, Cikaler, Cimapag, dan sekitarnya.

Airnya dangkal dan sangat keruh dikarenakan kegiatan penambang deplang liar. Padahal di hilir, aliran air tersebut saat ini digunakan warga untuk kebutuhan rumah tangga karena sedang musim kemarau,” ujar Ujang, Sabtu (12/9/2026).

Dampak dari pencemaran sungai ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Lengkong, tetapi juga meluas hingga ke wilayah tetangga di Kalibunder dan Pabuaran. Selain kesulitan mendapatkan air bersih untuk mandi dan mencuci, warga kini diselimuti rasa cemas akan risiko kesehatan.

Budi, warga Pabuaran, mengungkapkan kekhawatirannya jika air yang keruh dan penuh lumpur tersebut telah tercemar oleh bahan-bahan kimia berbahaya yang biasa digunakan dalam proses pengolahan emas secara ilegal.

“Kami tidak cuma pusing karena airnya keruh dan berlumpur, tapi warga juga takut air tersebut mengandung zat kimia beracun yang dapat mengganggu kesehatan. Dalam kondisi debit air yang sangat kecil seperti sekarang, dampaknya pasti lebih terasa kalau dipakai daily,” ungkap Budi.

Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Sukabumi dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil tindakan tegas dan permanen. Pasalnya, upaya penertiban yang dilakukan selama ini dinilai belum mampu menghentikan total aktivitas penambangan liar tersebut.

“Meskipun aktivitas penambang gelap ini sudah beberapa kali dibubarkan oleh petugas kepolisian, mereka tetap saja membandel dan kembali beroperasi. Kami minta pemerintah segera ambil tindakan tegas agar sungai kami kembali bersih dan aman digunakan,” tegas Budi.

Exit mobile version