SUKABUMISATU.com – Di balik duka yang menyelimuti keluarga Deni Setiawan dan Ujang Agus, tersimpan sebuah fakta lain yang jarang dibicarakan: tempat keduanya terseret ombak—Pantai Cikeueus, Girimukti, Ciemas—bukanlah sekadar lokasi biasa. Area ini adalah spot mancing favorit bagi para pemancing, bahkan disebut sebagai salah satu titik terbaik di pesisir selatan Sukabumi.
Di antara kalangan pemancing, nama Cikeueus sudah lama dikenal.
Bukan tanpa alasan. Perairan ini kerap menghadirkan sensasi tarikan kuat ikan besar seperti GT (Giant Trevally), ikan buruan yang menjadi kebanggaan setiap pemancing yang berhasil menaklukkannya.
Karena itulah, meski di balik batuan karang menyimpan ombak yang tak terduga, para pemancing tetap berdatangan. Mereka rela menembus jalur terjal, berjalan kaki melewati tebing dan karang, hanya demi mendapatkan “strike” istimewa.
Ironisnya, tragedi yang menimpa Deni dan Agus tampaknya belum cukup untuk membuat para pemancing benar-benar berhenti atau mundur. Beberapa hari setelah kejadian, masih terlihat sejumlah pemancing datang ke kawasan Cikeueus. Sebagian membawa tombak, sebagian membawa joran, dan sebagian lain hanya berbekal keberanian.
Bagi mereka, risiko hanyalah bagian dari hobi. Sensasi mendapatkan ikan besar lebih kuat daripada rasa takut.
Seorang pemancing lokal bahkan sempat berkata bahwa ombak tinggi sudah menjadi sahabat, dan selama bertahun-tahun Cikeueus selalu menjadi pilihan karena “ikan besarnya jarang mengecewakan.”
Namun tragedi kali ini meninggalkan pesan penting: bahwa garis pantai selatan tidak bisa diprediksi. Satu langkah terlalu dekat ke bibir karang, satu hantaman ombak yang datang tanpa suara, dan nyawa bisa melayang dalam hitungan detik.
Deni dan Agus hanyalah dua nama dari banyak kisah yang pernah terjadi di garis pantai selatan Sukabumi. Mereka berangkat hanya dengan niat memancing seperti biasa, namun tak pernah kembali dengan selamat.
Meskipun demikian, Cikeueus tetap berdiri sebagai spot favorit, seakan-akan tragedi adalah bagian dari cerita panjang sebuah tempat yang terlalu menantang untuk ditinggalkan.
Laut tidak pernah salah. Ia hanya menuntut dihormati. Dan bagi para pemancing, mungkin sekarang waktunya untuk menimbang kembali:
Apakah ikan sebesar GT layak ditukar dengan nyawa?
(Demi Pratama Adiputra)












