Rabu,25 Februari 2026
Pukul: 15:57 WIB

​Plot Twist Kasus Kematian Bocah Jampang Kulon: Paman Sebut Luka Nizam Awalnya Hanya Bercak Kecil

​Plot Twist Kasus Kematian Bocah Jampang Kulon: Paman Sebut Luka Nizam Awalnya Hanya Bercak Kecil

Minggu, 22 Februari 2026
/ Pukul: 15:55 WIB
Minggu, 22 Februari 2026
Pukul 15:55 WIB
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

SUKABUMISATU.com – Di balik dinding rumah Anwar Satibi, sebuah misteri besar tengah didekap erat. Saat opini publik telah “mengetok palu” bahwa TR sang ibu tiri yang antagonis dalam kematian tragis N alias RJ (13), sebuah pengakuan dari saksi kunci muncul ke permukaan, memutarbalikkan seluruh narasi yang ada.

​Mamat, paman korban yang menjaga Nizam di detik-detik terakhirnya, akhirnya memecah keheningan. Kesaksiannya bukan sekadar pembelaan, melainkan sebuah anomali medis yang menantang nalar.

Kesaksian 72 Jam Terakhir

​Mamat adalah satu dari 16 saksi yang diperiksa Polres Sukabumi. Ia berada di sana, di samping tempat tidur Nizam, selama tiga hari berturut-turut sebelum bocah itu menghembuskan napas terakhirnya pada Kamis, (19/02/2026) lalu.

​”Selama tiga hari saya menginap, menjaga keponakan saya yang sakit. Saya berani pastikan, tidak ada luka bakar seperti yang ramai dituduhkan netizen,” ungkap Mamat dengan nada getir pada sukabumisatu.com, Minggu, (22/02/26).

Baca Juga  Dilirik Partai Usai Viral Borong Dagangan Bocah Penjual Cobek Batu, Pria Asal Sukabumi ini Maju jadi Bacaleg PKB

​Ia menceritakan kondisi Nizam yang terus merosot. Kesadaran bocah itu mulai mengabur, bicaranya meracau (ngelantur). Mamat menegaskan bahwa video viral yang memperlihatkan seolah-olah Nizam mengaku disiksa adalah momen saat korban sedang berada dalam fase sakaratul maut.

​”Video itu adalah momen saat almarhum sedang meregang nyawa. Jawabannya tidak pasti karena bicaranya pun sudah melantur dan tidak sadar sepenuhnya,” tegasnya.

Anomali Medis: Luka yang Berubah Bentuk

​Bagian paling misterius dari kesaksian Mamat adalah perihal kondisi fisik Nizam. Sesaat sebelum kritis, Nizam masih sempat berkomunikasi dengan pamannya.

​”Mang, pangmeuncetkeun suku” (Paman, tolong pijatkan kaki), ujar Nizam lirih saat itu.

Baca Juga  Stop Sebar Hoaks! Kenali Perbedaan Kasus Nizam Sukabumi dan Nizam Pontianak yang Viral di Media Sosial

​Mamat menuruti permintaan tersebut. Ia menyentuh kaki keponakannya, memijatnya, dan ia bersaksi: tidak ada luka hebat. Luka yang ada hanyalah bercak-bercak kecil yang tidak mencurigakan.

​Namun, sebuah transformasi mengerikan terjadi hanya dalam hitungan jam. Saat tiba di rumah sakit, luka-luka kecil itu berubah menjadi borok besar yang tampak seperti bekas penganiayaan.

​”Yang menjadi heran saya, luka-luka itu tadinya cuma kecil. Tapi kenapa pas sampai di rumah sakit malah jadi kelihatan besar dan parah? Itu yang kami pertanyakan,” ucap Mamat penuh kebingungan.

Ibu Tiri: Antara Fitnah dan Fakta

​Mamat menolak mentah-mentah label “Ibu Tiri Kejam” yang disematkan publik pada TR. Menurutnya, TR justru memberikan kasih sayang penuh karena ia tidak memiliki anak kandung. Bagi keluarga besar, TR adalah sosok yang merawat Nizam layaknya darah daging sendiri.

Baca Juga  Pengendara Motor Tewas di Tempat Usai Tabrakan di Jembatan Ciganda Sukalarang

​Kini, keluarga besar Nizam memilih untuk diam di tengah badai hujatan, menunggu satu jawaban pasti dari meja forensik.

Menanti “Suara” dari Lab Forensik

​Pernyataan Mamat kini menjadi variabel baru yang sangat krusial bagi penyidik Polres Sukabumi. Pertanyaan besarnya kini berpindah:

Apakah benar terjadi penganiayaan yang tersembunyi?

​Ataukah Nizam menderita kondisi medis langka—seperti infeksi sistemik atau sindrom kulit—yang menyebabkan jaringan tubuhnya membusuk secara kilat di saat-saat terakhir?

​Hasil autopsi dan uji laboratorium organ dalam akan menjadi penentu. Apakah kasus ini akan berakhir di jeruji besi, atau justru menjadi duka medis yang terbalut fitnah massal?

Editor: Demi Pratama Adiputra

Related Posts

Add New Playlist