Indeks

Menganyam Harapan di Desa Wisata Hanjeli: Saat Jemari Ibu-Ibu Waluran Mandiri Belajar Merajut Kemandiri Ekonomi

Warga Desa Waluran Mandiri mengikuti praktik dasar merajut bersama mahasiswa KKM Kelompok 9 di Rumah Baca Sauyunan, kawasan Desa Wisata Hanjeli.

SUKABUMISATU.com, WALURAN — Suasana hangat dan penuh keceriaan menyelimuti Rumah Baca Sauyunan (RBS) di kawasan Desa Wisata Hanjeli, Desa Waluran Mandiri, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jumat sore. Di atas tikar sederhana, tampak jemari ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak tekun memegang benang polyester warna-warni serta jarum hakpen.

​Di bawah bimbingan para mahasiswa Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 9 STKIP Bina Mutiara Sukabumi, warga setempat diajak belajar merajut—sebuah keterampilan tangan sederhana yang membawa misi besar: membangun kemandirian ekonomi keluarga berbasis edukasi.

​Program pemberdayaan yang digelar rutin setiap Jumat sore ini bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Kehadirannya berangkat dari realitas sosial ekonomi masyarakat Desa Waluran Mandiri. Selama ini, mayoritas kepala keluarga di wilayah tersebut menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian dan pertambangan emas rakyat. Kedua sektor ini sangat dipengaruhi oleh cuaca, sifat musiman, serta fluktuasi harga pasar yang kerap tak menentu.

​Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKM Kelompok 9 menangkap adanya potensi tersembunyi dari para ibu rumah tangga. Tanpa meninggalkan peran domestik di rumah, para ibu ini sebenarnya memiliki ruang dan waktu untuk dibekali keterampilan produktif.

​”Kami memilih pelatihan merajut karena modal awalnya relatif kecil dan bahannya gampang diperoleh. Namun, jika ditekuni, hasilnya bisa diubah menjadi suvenir bernilai jual tinggi. Apalagi Desa Wisata Hanjeli ini adalah destinasi wisata edukasi unggulan, tentu suvenir kerajinan tangan akan sangat diminati wisatawan,” ungkap salah seorang anggota Kelompok 9 KKM STKIP Bina Mutiara Sukabumi pada sukabumisatu.com Rabu, (12/08/2026).

​Ia menambahkan, harapan besarnya adalah agar keterampilan ini tidak berhenti saat masa KKM usai, melainkan terus bertumbuh menjadi ikhtiar ekonomi kreatif mandiri bagi warga setempat.

Sentuhan Sabar dalam Setiap Simpul Rantai

​Pelatihan yang dimulai sejak akhir Juli 2026 lalu diawali dari hal paling mendasar: mengenalkan jenis benang, jarum hakpen, jarum tapestry, hingga teknik merapikan benang. Para mahasiswa mendampingi peserta secara telaten dan personal. Tidak ada tuntutan untuk cepat mahir; semua diajak belajar sesuai kecepatan jemari masing-masing.

​Proses belajar dipfokuskan pada penguasaan teknik chain stitch atau pola dasar rantai. Raut wajah serius tapi semringah terpancar ketika salah satu ibu berhasil menyelesaikan ikatan rantai pertamanya. Meski beberapa peserta masih berjuang menyelaraskan tarikan benang, suasana kebersamaan di Rumah Baca Sauyunan justru menjadi penyemangat tersendiri.

​Ke depan, simpul-simpul rantai dasar yang dipelajari hari ini ditargetkan dapat berkembang menjadi aneka produk kerajinan bernilai artistik, mulai dari gelang, gantungan kunci khas Hanjeli, boneka lucu, hingga tas rajut.

​Lebih dari sekadar memutar benang dan mengaitkan jarum, kegiatan ini menjadi ruang tumbuh bersama: tempat para ibu saling mendukung, belajar hal baru, sekaligus menyiapkan langkah kecil menuju ketahanan ekonomi keluarga yang lebih sejahtera dari kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. (redaksi)

Exit mobile version