SUKABUMISATU.com – Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Sukabumi memicu anomali pasar yang menguntungkan bagi sektor pertanian hortikultura. Di tengah keterbatasan pasokan air, komoditas mentimun justru mencatatkan performa gemilang dengan lonjakan harga yang signifikan, menjadi ladang cuan bagi para petani yang berhasil menjaga produktivitas lahan mereka. Minggu (19/07/2026).
Berdasarkan hukum permintaan dan penawaran (supply and demand), menyusutnya jumlah petani yang mampu berproduksi akibat kekeringan membuat volume pasokan mentimun di pasar menurun. Imbasnya, nilai jual komoditas ini merangkak naik dan memberikan margin keuntungan yang lebih tebal bagi petani yang bertahan.
Analisis Rantai Pasok: Margin di Tingkat Petani hingga Eceran
Lonjakan harga terjadi secara merata dari hulu ke hilir. Berikut adalah rincian pergeseran harga mentimun di pasar Sukabumi saat ini:
- Harga Normal Sebelumnya: Rp10.000 per kilogram.
- Harga Terkini di Tingkat Petani: Rp13.000 per kilogram (naik 30%).
- Harga di Tingkat Pengecer/Pasar Tradisional: Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
Selisih harga sebesar Rp4.000 hingga Rp5.000 dari tingkat petani ke pengecer menunjukkan adanya biaya logistik dan margin keuntungan yang diambil oleh mata rantai distribusi (tengkulak/agen hingga pedagang pasar). Kendati demikian, harga Rp13.000 di tingkat hulu sudah sangat ideal untuk menutup biaya produksi yang membengkak selama musim kemarau.
Tantangan Biaya Operasional dan Pilihan Strategis Petani
Aja, salah seorang petani mentimun di Daerah Kecamatan Cidahu Sukabumi, membagikan proyeksi bisnisnya. Menurutnya, memilih menanam mentimun di musim kemarau adalah strategi mitigasi risiko. Dibandingkan sayuran daun yang rentan gagal panen total akibat dehidrasi, mentimun dinilai lebih tangguh, walau membutuhkan modal tenaga dan biaya operasional (operational expenditure) ekstra untuk penyiraman.
”Kalau musim hujan tidak terlalu banyak menyiram karena terbantu air hujan. Tapi kalau musim kemarau seperti sekarang lumayan capek karena harus mencari air untuk menyiram tanaman. Makanya sekarang harga mentimun mahal, karena tidak semua petani bisa menanamnya akibat kesulitan mendapatkan air,” ujar Aja.
Dari kacamata bisnis, tingginya harga pasar saat ini merupakan kompensasi langsung dari peningkatan labor cost (biaya tenaga kerja) dan tingkat kesulitan produksi di lapangan. Fakta bahwa tidak semua petani mampu menyuplai pasar menjadi barrier to entry (hambatan masuk) yang menjaga harga mentimun tetap berada di level tertinggi.
Proyeksi Jangka Panjang: Harapan Stabilitas Pasar
Meski saat ini sedang menikmati keuntungan dari tingginya harga, para pelaku usaha tani di Sukabumi tetap berharap datangnya musim hujan untuk menekan risiko kekeringan jangka panjang.
Tantangan terbesar bagi ekonomi pertanian daerah ke depan adalah menjaga stabilitas harga. Petani berharap pemerintah daerah melalui dinas terkait dapat menjaga tata niaga pangan agar harga tidak jatuh secara ekstrem saat panen raya tiba di musim berikutnya. Upaya ini penting demi memastikan keberlanjutan usaha (business sustainability) dan peningkatan kesejahteraan petani Sukabumi secara jangka panjang.
Reporter: Chuba Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra
