SUKABUMISATU.com – Guncangan gempa bumi berkekuatan Magnitudo 5,0 yang melanda wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu sore (19/7/2026) sekira pukul 15.11 WIB, menyisakan cerita unik sekaligus kepanikan bagi warga. Meski BMKG merilis pusat gempa berada 79 kilometer Barat Daya Kabupaten Sukabumi, ploting peta menunjukkan episentrumnya berada sangat dekat dengan daratan pesisir selatan.
Berdasarkan data hasil pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak pada koordinat 7.70 LS dan 106.54 BT. Jika ditarik garis lurus di dalam peta, titik pusat gempa di Samudra Hindia ini sebenarnya berada persis tegak lurus di bawah area perbatasan antara Kecamatan Surade dan Kecamatan Ciracap.
Meskipun jarak ke pusat ibu kota kabupaten (Palabuhanratu) mencapai puluhan kilometer, jarak asli episentrum gempa ini ke bibir pantai terdekat di selatan Surade dan Ujung Genteng (Ciracap) diperkirakan hanya berkisar 40 hingga 45 kilometer saja. Letak geografis inilah yang menjadi alasan mengapa getaran gempa terasa begitu kuat dan berdurasi lama di wilayah tersebut.
Pantauan di lapangan, durasi getaran gempa yang dirasakan warga terbilang cukup awet, yakni berkisar antara 40 detik hingga 50 detik, dengan intensitas yang bervariasi.
Guncangan besar dilaporkan dirasakan oleh warga di wilayah Cibadak hingga merembet ke kawasan Kota Sukabumi. Getaran kuat juga dirasakan di wilayah selatan meliputi kawasan pantai Ujung Genteng, Surade, hingga Jampangkulon. Namun anehnya, di wilayah pesisir pantai Palabuhanratu, warga melaporkan gempa sama sekali tidak terasa.
Kesaksian Warga
Durasi gempa yang hampir mencapai satu menit ini sempat memicu kepanikan. Suhendi, warga Kecamatan Cibadak, mengaku dikejutkan oleh getaran yang membuat perabotan rumahnya bergoyang.
”Tadi saya lagi nyantai di dalam rumah, tiba-tiba kerasa guncangan besar. Pas saya lihat lampu gantung sama lemari sudah goyang-goyang. Kerasa lama banget, ada mungkin sekitar 45 detikan. Spontan saya langsung bawa anak-istri lari keluar rumah,” ujar Suhendi kepada SukabumiSatu.com.
Kondisi serupa dialami oleh Mira, warga Kota Sukabumi. Ia menceritakan bagaimana warga di sekitarnya sempat berhamburan ke luar bangunan karena ayunan gempa yang tak kunjung berhenti.
”Ayunan gempanya awet banget, kerasa sekitar 40 sampai 50 detik. Awalnya pelan, tapi kok makin lama makin kerasa goyang terus. Tetangga di gang juga pada keluar rumah karena takut guncangannya makin membesar,” tutur Mira.
Sementara itu, dari kawasan pesisir pantai selatan yang posisinya paling dekat dengan episentrum, Eka Sakti, warga Ujung Genteng (Kecamatan Ciracap), menuturkan bahwa getaran gempa terasa cukup panjang namun kondisi air laut dipastikan tetap aman.
”Kalau di pesisir Ujung Genteng tadi memang terasa guncangannya, lumayan panjang jalurnya karena posisi kita memang berhadapan langsung di selatan. Tapi Alhamdulillah, pantauan kami di pantai kondisi air laut normal, tidak ada tanda-tanda aneh. Warga sempat kaget saja karena durasinya yang lama, sekarang situasi sudah kembali kondusif,” jelas Eka Sakti.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang, waspada terhadap potensi gempa susulan, dan tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks. (Red)
