Indeks

Jaring Tanam dan Apollo Dinilai Ganggu Laut Ujunggenteng, 70 Persen Nelayan Obor Minajaya Berhenti Melaut

SUKABUMISATU.com, Minajaya – Polemik penggunaan jaring tanam dan jaring Apollo di perairan selatan Kabupaten Sukabumi kembali menjadi perhatian. Alat tangkap tersebut dinilai tidak hanya berpotensi mengganggu ekosistem laut, tetapi juga menghambat aktivitas pelayaran dan nelayan lainnya.

Salah seorang nelayan asal Minajaya, S, menyatakan mendukung langkah penghentian penggunaan jaring tanam dan jaring Apollo karena dinilai berdampak terhadap lingkungan maupun aktivitas nelayan. Hal itu disampaikannya, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, persoalan jaring tanam dan jaring Apollo tidak hanya berkaitan dengan aktivitas penangkapan ikan. Jaring yang sudah tidak digunakan juga berpotensi menjadi sampah laut apabila tidak diangkat dan dibuang pada tempat semestinya.

“Menurut saya setuju ketika memang jaring tanam dan jaring Apollo itu dihentikan karena dampaknya sangat besar bagi pencemaran laut, termasuk sampah yang sudah tidak berfungsi itu tidak dibuang,” ujarnya.

Selain persoalan lingkungan, keberadaan jaring tanam dalam jumlah banyak disebut dapat membahayakan aktivitas pelayaran. Kondisi tersebut terutama dirasakan nelayan yang melaut pada malam hari.

“Banyak kecelakaan, terus mengganggu aktivitas pelayaran. Jadi perahu ketika berlayar malam hari tidak stabil, harus bulak-belok karena banyaknya jaring tanam,” katanya.

Ia menyebutkan, jumlah perahu nelayan obor di kawasan Minajaya diperkirakan mencapai lebih dari 300 unit. Namun, keberadaan jaring tanam membuat sebagian nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut.

“Kalau untuk nelayan obor mungkin jumlah perahu itu sekitar 300 lebih di Minajaya. Tapi sekarang sebagian terhenti karena banyaknya jaring tanam,” ungkapnya.

Bahkan, menurutnya, sekitar 70 persen perahu nelayan obor saat ini berhenti beroperasi akibat banyaknya jaring tanam yang memenuhi wilayah perairan tersebut.

“Sekitar 70 persen perahu obor berhenti beroperasi karena banyaknya jaring tanam,” tegasnya.

Tidak hanya mengganggu jalur pelayaran, penggunaan jaring tanam juga dinilai membatasi akses nelayan lain untuk menangkap ikan. Areal perairan yang dipenuhi jaring membuat ruang gerak nelayan menjadi semakin terbatas.

Ia menjelaskan, potensi ikan yang sebenarnya masih terdapat di perairan tersebut tidak otomatis dapat dimanfaatkan oleh nelayan lain karena sebagian wilayah penangkapan telah dipenuhi jaring tanam.

“Untuk potensi ikan, walaupun ikan banyak tapi tidak bisa ditangkap karena areal zonasinya habis dengan jaring tanam tersebut,” pungkasnya.

Polemik jaring tanam dan jaring Apollo ini menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian dalam penataan aktivitas penangkapan ikan di perairan selatan Sukabumi. Penataan diharapkan dapat menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus memberikan ruang yang aman bagi seluruh kelompok nelayan untuk menjalankan aktivitasnya.

Reporter: Maulana Yusup
Editor: Chuba

Exit mobile version