SUKABUMISATU.com, CIBADAK — Perjalanan menuju puncak tak pernah benar-benar mulus. Ada kalanya sepatu harus berganti tapak latihan, ada kalanya mesin mobil mogok di tengah tol, dan ada kalanya kekalahan di fase grup menusuk perih.
Namun, anak-anak usia 12 tahun dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Siliwangi Cibadak 1999 (SC 1999) membuktikan satu hal: keringat dan ketabahan tak pernah mengkhianati hasil. Pada Minggu (1/11/2026), mereka resmi memboyong trofi Juara 1 Nasional Festival Liga Champions Anak Indonesia 2026 di Lapangan Mini Soccer CR Seven Sport Center, Gunung Sindur, Bogor.
Kisah sukses ini berawal dari sebuah perpisahan yang tenang di Cibadak. Lapangan Sekarwangi—rumput tempat anak-anak kelahiran 2014 ini pertama kali menendang bola dan mengejar mimpi—harus diikhlaskan. Kawasan itu disulap pemerintah daerah menjadi Taman Kota.
Tanpa waktu untuk meratapi keadaan, anak-anak beserta jajaran pelatih memboyong impian mereka ke “rumah baru”: Lapangan Mini Soccer Gunung Walat, Desa Batununggal, Kecamatan Cibadak. Di sana, proses pembinaan kembali dirajut dari nol.
Ujian belum selesai. Minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB, saat rombongan bergerak menuju Bogor membawa asa Sukabumi, armada kendaraan mereka mendadak mogok di Jalan Tol Yasmin. Suasana sempat diselimuti kecemasan; waktu tanding kian mepet, sementara mesin tak juga menyala. Namun, kekompakan dan ketenangan orang tua serta pelatih berhasil meluluhkan situasi mendesak itu hingga rombongan sampai di arena laga.
Darah Muda di Fase Grup hingga Drama Sudden Death
Memasuki babak penyisihan di Grup A, jalan terjal kembali menanti. Usai memetik kemenangan WO 3-0 atas Johnson Sport A, SC 1999 harus menelan pil pahit usai ditundukkan Doberay FC asal Manokwari, Papua, dengan skor tipis 2-3.
Kekalahan itu bukannya meruntuhkan mental, melainkan jadi bahan bakar evaluasi. Laga penentu kontra Borussia Mounchenlabah Academy Indonesia disapu bersih dengan kemenangan 1-0. SC 1999 pun melenggang ke babak gugur sebagai runner-up Grup A.
Di babak perempat final, anak-anak Cibadak harus berhadapan dengan Monstera FC, jawara Grup C asal DKI Jakarta. Skor kacamata 0-0 bertahan hingga peluit panjang. Ketegangan memuncak saat penentuan pemenang harus melewati adu penalti. Dengan kepala dingin, algojo-algojo cilik SC 1999 mengunci kemenangan dramatis 3-2.
Laju percaya diri SC 1999 tak terbendung di babak semifinal. Perwakilan DKI Jakarta lainnya, Indonesia Youth FA, digulung tanpa ampun dengan skor telak 4-0.
Misi Pembalasan di Partai Puncak & Kawin Gelar Individu
Takdir menuntun SC 1999 kembali bertemu Doberay FC di partai final. Tim asal Manokwari yang sempat menumbangkan mereka di fase grup kini berdiri di seberang lapangan. Bagi SC 1999, ini bukan sekadar laga final, melainkan panggung pembuktian.
Momen krusial tercipta pada menit ke-8 babak pertama. Albia Dzibril melangkah maju mengambil eksekusi tendangan bebas. Dengatan sepakannya melengkung indah, membobol gawang lawan sekaligus mengunci skor 1-0 hingga laga usai. Dendam terbalas manis, gelar Juara Nasional sah milik Sukabumi!
Keberhasilan SC 1999 kian sempurna setelah dua penghargaan individu bergengsi turut disapu bersih:
- Best Coach: Diraih oleh Roby Muhamad Yusup, pelatih muda yang baru tiga bulan menyelesaikan studi S1 PJKR di Bina Mutiara Sukabumi.
- Best Player: Disabet oleh Albia Dzibril, sang penentu kemenangan di partai final.
Dari riuh Sekarwangi yang berganti taman, dinginnya Gunung Walat, hingga teriknya Gunung Sindur—SC 1999 tidak hanya membawa pulang piala. Mereka membawa pulang pelajaran berharga tentang cara bangkit dari setiap himpitan. Dari Cibadak, untuk Indonesia!












