Budidaya Melon Premium Hidroponik di Tenjoayu Raup Pendapatan Rp25 Juta, Jadi Potensi Usaha BUMDes

SUKABUMISATU.COM, Cicurug – Inovasi sektor pertanian berbasis teknologi mulai dikembangkan Pemerintah Desa Tenjoayu, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), budidaya melon premium dengan sistem greenhouse dan hidroponik kini menjadi salah satu potensi usaha desa yang menjanjikan.

Menariknya, budidaya tersebut mengembangkan dua varietas melon unggulan, yakni Sweet Lavender dan Dalmatian. Keduanya memiliki karakteristik berbeda, mulai dari tampilan, tingkat kemanisan hingga harga jual, Selasa (3/11/2026).

Pembimbing budidaya melon BUMDes Desa Tenjoayu, Sutrisno, menjelaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 1.320 tanaman melon yang dikembangkan di dua greenhouse.

“Untuk varietas Dalmatian jumlahnya sekitar 500 tanaman, sedangkan Sweet Lavender sekitar 800 tanaman,” ujar Sutrisno saat menjelaskan pengembangan budidaya melon di Desa Tenjoayu.

Dari hasil pengujian, melon jenis Dalmatian memiliki tingkat kemanisan mencapai 20 brix, sementara Sweet Lavender berada di kisaran 16 brix. Tingkat kemanisan tersebut menjadi salah satu keunggulan yang menarik perhatian konsumen.

Menurutnya, minat masyarakat terhadap melon Dalmatian saat ini cukup tinggi. Bahkan, permintaan terhadap varietas tersebut mulai mengalami peningkatan.

Baca Juga  Sosialisasi Program Bangga Kencana, Anggota DPR RI: Menikah Harus di Usia yang Cukup

Untuk harga jual, Sweet Lavender dipasarkan sebesar Rp30.000 per kilogram, sedangkan Dalmatian dibanderol Rp35.000 per kilogram.

Menariknya, pemasaran hasil panen tidak hanya dilakukan melalui penjualan biasa. Pihak BUMDes juga menerapkan konsep agrowisata petik melon langsung dari greenhouse.

Melalui konsep tersebut, masyarakat dapat datang bersama keluarga, melihat langsung proses budidaya, berfoto, sekaligus memetik dan menikmati buah melon segar.

“Minat masyarakat lebih tinggi ketika mereka datang langsung. Bisa bersama keluarga, melihat tanaman, berfoto, kemudian memetik dan menikmati melon secara langsung,” jelasnya.

Sutrisno menambahkan, usaha budidaya melon di Desa Tenjoayu telah memasuki dua kali masa tanam sejak mulai dikembangkan sekitar Juli 2026.

Dalam proses budidayanya, tanaman melon membutuhkan waktu sekitar 60 hingga 75 hari setelah tanam (HST) hingga siap dipanen. Namun, waktu panen tetap mempertimbangkan tingkat kemanisan buah agar sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

Dari sisi hasil usaha, budidaya melon tersebut mulai memberikan kontribusi pendapatan bagi BUMDes. Pada masa tanam kedua, pendapatan sementara yang tercatat mencapai sekitar Rp25 juta.

Baca Juga  Pembangunan GICC Terhambat Material tak Sesuai Spesifikasi, Kepala Pelaksana: Murni Kesalahan Pabrik Bukan Kontraktor

“Untuk hasil saat ini baru mencapai Rp25 juta dan belum dihitung secara keseluruhan. Insyaallah dari sisa panen masih berpotensi bertambah,” ungkapnya.

Ia mengakui, pada tahap awal pengembangan usaha masih terdapat sejumlah proses pembelajaran, mulai dari teknik budidaya hingga pengelolaan hasil panen. Meski demikian, antusiasme masyarakat dan dukungan pemerintah menjadi motivasi untuk terus mengembangkan usaha tersebut.

Sutrisno mengungkapkan, gagasan budidaya melon hidroponik berawal dari inisiatif pengurus BUMDes yang ingin menggali potensi usaha baru di Desa Tenjoayu.

Melalui pendekatan pertanian berbasis teknologi, BUMDes berupaya menciptakan unit usaha produktif yang tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka peluang peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).

Pengembangan tersebut juga mendapat perhatian dari Wakil Bupati Sukabumi yang sebelumnya berkunjung bersama jajaran pemerintah daerah. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi budidaya melon berbasis greenhouse agar dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya.

Dalam kesempatan itu, Sutrisno menyebut dukungan yang disampaikan pemerintah daerah menjadi dorongan bagi pengembangan pertanian berbasis greenhouse di Kabupaten Sukabumi. Adapun dukungan anggaran ke depan masih perlu dibahas melalui mekanisme dan sumber pendanaan yang tersedia.

Baca Juga  DPU Kabupaten Sukabumi Kebut Pembangunan Jalan Tenjoayu–Purwasari, Tingkatkan Akses Infrastruktur di Cicurug

Ia berharap budidaya melon premium di Desa Tenjoayu dapat menjadi contoh bagi desa lain, khususnya di Kecamatan Cicurug, dalam mengembangkan potensi pertanian sesuai karakteristik wilayah masing-masing.

“Harapan saya, budidaya ini bisa ditiru desa-desa lain di Kabupaten Sukabumi. Mudah-mudahan BUMDes di desa lain juga bisa mengembangkan pertanian berbasis teknologi dengan dukungan pemerintah, sehingga potensi pertanian dan perekonomian desa semakin meningkat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *