Indeks

Sisi Kelam Kemarau di Sukabumi: Terpaksa Pakai Air Kobak Keruh Demi Bertahan Hidup

Penyaluran Bantuan Air Bersih, Kolaborasi Ruang Amal Indonesia, LAZ HSI Berbagi, dan Pramuka Peduli Kwarcab Sukabumi. Cicantayan, (28/07/2026).

SUKABUMISATU.com — Jeritan warga akibat kekeringan makin membuncah di wilayah Kabupaten Sukabumi. Dalam dua pekan terakhir, terik matahari yang menyengat tak hanya mengeringkan sumur-sumur warga, tetapi juga mengikis asa ratusan kepala keluarga di Kecamatan Cicantayan dan Cikembar. Selasa, (28/07/2026).

​Di balik indahnya lanskap pedesaan, tersimpan cerita pilu warga Kampung Pangkalan dan Kampung Nanggela yang harus bersahabat dengan krisis air bersih.

Krisis Air Bersih: Beli Air untuk Minum, Air Kobak untuk Cuci dan Mandi

​Potret memprihatinkan terlihat jelas di lapangan. Sumber air utama warga mendadak mati total. Demi memenuhi kebutuhan sanitasi harian—seperti mandi, cuci, dan kakus (MCK)—warga terpaksa mengandalkan air kubangan (kobak) yang mulai menyusut dan keruh.

​Sementara untuk kebutuhan konsumsi, warga yang ekonominya makin terimpit terpaksa merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air minum isi ulang dari luar wilayah.

​”Untuk minum dan memasak tidak mungkin pakai air kobak karena sangat keruh. Tapi untuk cuci dan mandi, mau tidak mau warga memanfaatkan air seadanya yang tersisa di kubangan,” ungkap Irsan salah satu Satgas Pramuka Peduli 0902 Kwarcab Kabupaten Sukabumi. Selasa, (28/07/2026).

​Tak hanya mengancam kesehatan dan sanitasi warga, musim kemarau ini turut memukul sektor pertanian. Hektaran lahan sawah di sekitar pemukiman warga kini retak-retak mengering, memastikan ancaman gagal panen besar-besaran bagi para petani setempat.

Ratusan KK dan Fasilitas Umum Terdampak

​Berdasarkan hasil asesmen dan pendataan lapangan oleh Satgas Pramuka Peduli bersama Kepala Desa Hegarmanah, Ujang Nata, diperkirakan ada sekitar 500 Kepala Keluarga (KK) dari dua dusun yang kini menanggung dampak kekeringan.

Berikut sebaran wilayah dan fasilitas yang terdampak krisis air:

  • ​Kp. Pangkalan (Desa Hegarmanah, Kec. Cicantayan): RT 01, RT 02 / RW 03 (Total ~118 KK).
  • ​Kp. Nanggela (Desa Hegarmanah, Kec. Cicantayan): RT 01, RT 02, RT 03 / RW 02 (~65 KK di RT 03).
  • ​Kp. Nanggela (Desa Bojongkembar, Kec. Cikembar): RT 04 / RW 10 (45 KK).

Fasilitas Umum: 2 Masjid Jami dan 5 Musala turut mengalami kekeringan air bersih.

Secercah Harapan: Penyaluran 12.000 Liter Air Bersih

​Merespons jeritan warga, aksi kolaborasi kemanusiaan bergerak cepat. LAZ HSI Berbagi bersama mahasiswa STDI Imam Syafi’i Jember, dibantu oleh Satgas Pramuka Peduli 0902 Kwarcab Sukabumi dan aparatur setempat, menerjunkan bantuan air bersih pada Selasa (28/7/2026).

​Sebanyak 3 armada truk tangki dengan total kapasitas 12.000 liter air bersih digelontorkan langsung ke titik-titik krisis di Desa Hegarmanah dan Desa Bojongkembar.

Penyaluran terbagi dalam tiga titik distribusi utama:

  • ​Titik I: Kp. Pangkalan RT 01/RW 03 & Kp. Nanggela RT 03/RW 02 (Desa Hegarmanah).
  • ​Titik II: Kp. Nanggela RT 04/RW 10 (Desa Bojongkembar) & Kp. Pangkalan RT 02/RW 03 (Desa Hegarmanah).
  • ​Titik III: Kp. Nanggela RT 01 & RT 02 / RW 02 (Desa Hegarmanah).

Sinergi Kemanusiaan Menembus Pelosok

​Perwakilan Divisi Distribusi dan Pendayagunaan LAZ HSI Berbagi, Aryo, menyampaikan bahwa aksi sosial ini lahir dari rasa empati mendalam atas kondisi warga Sukabumi yang kesulitan mengakses kebutuhan dasarnya.

​”Kami memahami air adalah urat nadi kehidupan. Semoga bantuan yang kami distribusikan bersama para mahasiswa dan relawan Pramuka Peduli ini bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita di sini,” tutur Aryo di lokasi distribusi.

​Hadir dalam pendistribusian air bersih tersebut Kepala Desa Hegarmanah Ujang Nata, Kepala Dusun Yusuf, Satpol PP Kecamatan Cicantayan Dadih, serta jajaran Satgas Pramuka Peduli, Ruang Amal Indonesia, dan relawan LAZ HSI Berbagi.

​Kini, warga hanya bisa menyadarkan harapan pada kepedulian sesama dan doa agar langit Sukabumi segera memuntahkan hujan rahmat untuk mengakhiri dahaga yang melanda tanah mereka.

Reporter: Suhendi Soex

Editor: Demi Pratama Adiputra

Exit mobile version