SUKABUMISATU.com – Kekayaan paleontologi di wilayah Jampang, Kabupaten Sukabumi, kembali menjadi sorotan. Kali ini, temuan ribuan fosil gigi Megalodon di Desa Gunungsungging tidak hanya dipandang dari sudut pandang sains, namun juga diangkat menjadi sebuah pertunjukan seni inovatif bertajuk “Pulo Megalodon Jampang”.
Sebagai langkah awal, Pakidoelan Lab (Yayasan Sri Manggala Nusantara) menggelar Diskusi & Sosialisasi Pra-Pertunjukan yang dilaksanakan tepat pada hari ini, Rabu (08/04/2026), bertempat di kawasan Goa Cigintung, Desa Gunungsungging, Kecamatan Surade.
Menjembatani Sains dan Mitos ‘Huntu Gelap’
Proyek seni ini terbilang unik karena mengusung konsep Live Action Role Play (LARP) atau teater game. Penonton tidak hanya duduk diam, melainkan terlibat langsung sebagai “penjelajah semesta” dalam misi menyelamatkan keseimbangan alam.
Direktur artistik sekaligus inisiator proyek, S. Sophiyah K., menjelaskan bahwa pertunjukan ini berusaha menafsirkan ulang Geomitologi. Masyarakat lokal Jampang sejak lama mengenal fosil gigi hiu purba ini dengan sebutan “Huntu Gelap” (gigi petir) yang dipercaya memiliki kekuatan mistis.
”Kami menggunakan pendekatan kosmologi Sunda Tri Tangtu—Buana Nyungcung, Buana Tengah, dan Buana Larang—sebagai alur dramaturginya. Ini adalah cara kami menghubungkan sejarah bumi 35 juta tahun lalu dengan krisis iklim masa kini,” ungkap S. Sophiyah pada Sukabumisatu.com disela persiapan acara. Selasa, (0/04/2026).
Menghadirkan Pakar Museum Geologi
Dalam diskusi yang berlangsung di mulut Goa Cigintung tersebut, hadir dua narasumber ahli dari Museum Geologi Bandung, yakni Arief Kurniawan, S.T., M.T. dan Adhitya Ari Nugroho, S.T.. Kehadiran mereka bertujuan untuk memvalidasi data ilmiah agar narasi seni yang dibangun tetap berbasis pada fakta paleontologi yang kuat.
Seperti diketahui, penemuan fosil Otodus megalodon di Surade pada 2021 lalu merupakan yang terbesar di Indonesia. Temuan ini membuktikan bahwa jutaan tahun lalu, wilayah Jampang Selatan adalah dasar lautan purba yang kaya akan biota laut raksasa.
Kolaborasi Seniman Lintas Disiplin
Proyek ambisius ini didukung oleh deretan seniman profesional, di antaranya:
-
Rizal Sofyan (Dosen Teater ISBI Bandung) sebagai Penulis Naskah & Konseptor Game.
-
Louis Marcellino sebagai Visual Director yang menggarap animasi digital.
-
Rangga Purnama Aji sebagai Sound Designer.
-
Puspita Tjokronegoro (Alumni ITB) sebagai Skenografer.
Mendorong Wisata Edukasi Internasional
Ketua Pakidoelan Lab berharap karya ini tidak hanya menjadi tontonan sesaat, tetapi bisa dikelola secara mandiri oleh komunitas lokal di masa depan.
”Target kami adalah memperkuat posisi Jampang Selatan dalam peta UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu. Kami ingin Museum Megalodon di sini menjadi destinasi wisata edukasi bertaraf internasional melalui pendekatan seni yang menyenangkan,” pungkasnya.
Kegiatan ini didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan RI, Dana Indonesiana, dan LPDP, serta berkolaborasi dengan Museum Megalodon dan Geopark Youth Forum.
Bagi warga Sukabumi yang penasaran ingin merasakan sensasi menjadi penjelajah purba, pertunjukan ini nantinya akan menyasar audiens usia 14 tahun ke atas dengan menggabungkan instalasi audio-visual, properti fosil, hingga teknologi digital.
Reporter: Maulana Yusuf
Editor: Demi Pratama Adiputra
