Oleh: Ir. Hendra Dirdja Triana, M.M., Ph.D. (Pemerhati Lingkungan dan Teknologi Informasi)
SUKABUMISATU.com – Kabupaten Sukabumi memiliki potensi ekonomi kelautan yang besar. Dengan pesisir selatan yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, aktivitas perikanan tangkap menjadi salah satu bagian penting dari ekonomi masyarakat pesisir.
Data Pemerintah Kabupaten Sukabumi mencatat produksi perikanan tangkap tahun 2023 mencapai sekitar 8,82 juta kilogram, dengan nilai produksi sekitar Rp185,44 miliar. Komoditasnya antara lain tuna, tongkol, cakalang, layur, kembung, cumi-cumi, udang dan lobster. (PPID Sukabumi)
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan perikanan Sukabumi bukan semata-mata berapa banyak ikan yang ditangkap, tetapi bagaimana hasil tangkapan tersebut dapat dipertahankan mutunya dan memperoleh nilai tambah yang lebih tinggi.
Di sinilah tata kelola cold chain atau rantai dingin menjadi sangat penting.
A. Ikan Berkualitas Tidak Cukup Hanya Ditangkap
Ikan merupakan komoditas yang mudah mengalami penurunan mutu.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menjelaskan bahwa rantai dingin merupakan proses mempertahankan suhu rendah sejak ikan ditangkap hingga sampai kepada konsumen. Untuk ikan segar, penggunaan es dan pengendalian suhu sekitar 0–4°C merupakan bagian penting dalam mempertahankan mutu dan memperlambat pembusukan. (KKP)
Artinya, kualitas ikan tidak hanya ditentukan oleh kondisi saat ikan berada di laut.
B. Kualitas ditentukan sepanjang perjalanan ikan.
Dari: kapal – pendaratan – sortasi – pencucian – pendinginan – penyimpanan – transportasi – pengolahan – distribusi – konsumen.
Jika salah satu mata rantai terputus, nilai ekonomi produk dapat ikut turun.
C. Cold Chain Bukan Sekadar Cold Storage
Sering kali cold chain dipahami hanya sebagai pembangunan cold storage.
Padahal cold chain adalah sebuah sistem.
Ia mencakup:
- ketersediaan es;
- fasilitas pendinginan di kapal;
- penanganan saat ikan didaratkan;
- cold room;
- Air Blast Freezer (ABF);
- kendaraan berpendingin;
- gudang beku;
- monitoring suhu;
- standar sanitasi;
- pengemasan;
- distribusi;
- serta prosedur pengendalian mutu.
Dengan demikian, membangun satu cold storage tanpa membangun ekosistem distribusi dingin tidak akan menyelesaikan persoalan.
D. Palabuhanratu sebagai Hub Rantai Dingin
Sukabumi sebenarnya memiliki modal penting untuk membangun sistem tersebut.
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu merupakan infrastruktur perikanan strategis yang dibangun karena potensi perikanan kawasan Samudra Hindia dan mulai beroperasi pada 1993. (PIPP)
Namun PPN Palabuhanratu seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tempat kapal datang dan ikan dibongkar.
Ia dapat dikembangkan sebagai regional fisheries hub: Landing – Cold Chain – Processing – Packaging – Distribution – Market
Dengan konsep tersebut, ikan dari nelayan tidak langsung keluar daerah sebagai bahan mentah. Sebagian dapat masuk ke industri pengolahan dan menghasilkan nilai tambah di Sukabumi.
E. Ada Bukti Bahwa Cold Chain Mengubah Ekonomi Nelayan
Pengalaman di pesisir selatan Sukabumi sendiri menunjukkan pentingnya fasilitas penyimpanan dingin.
KKP pernah memberikan dukungan cold storage dan Air Blast Freezer kepada Koperasi Nelayan Berdaulat di Ciwaru, Sukabumi. Fasilitas tersebut memungkinkan hasil tangkapan saat kondisi cuaca baik dibekukan dan disimpan, sehingga penjualan dapat disesuaikan dengan permintaan dan harga pasar, bukan semata-mata karena tekanan untuk segera menjual ikan. (KKP)
Ini adalah prinsip ekonomi yang sangat penting.
Tanpa cold chain: ikan harus segera dijual – posisi tawar nelayan lemah.
Dengan cold chain: ikan dapat disimpan – waktu pemasaran lebih fleksibel — peluang mendapatkan harga yang lebih baik meningkat.
Tentu peningkatan harga tidak otomatis terjadi; keberhasilannya tetap bergantung pada biaya energi, kapasitas penyimpanan, kualitas produk, akses pasar dan tata kelola usaha.
F. Masalahnya Bukan Hanya Teknologi
Pembangunan cold chain harus disertai business model.
a) Siapa pemilik fasilitas?
b) Siapa operatornya?
c) Siapa yang membayar listrik?
d) Bagaimana tarif penyimpanan?
e) Siapa yang bertanggung jawab terhadap mutu?
f) Bagaimana sistem pembagian keuntungan?
g) Dan bagaimana nelayan memperoleh manfaat?
Jika pertanyaan tersebut tidak dijawab, fasilitas yang mahal berisiko menjadi aset yang kurang termanfaatkan.
Karena itu, saya melihat model koperasi nelayan atau badan usaha bersama dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan, dengan profesionalisme manajemen dan transparansi keuangan.
G. Dari Ikan Segar Menjadi Industri Bernilai Tambah
- Cold chain juga membuka pintu bagi hilirisasi.
- Ikan tidak harus selalu dijual dalam bentuk segar.
Dengan kualitas bahan baku yang terjaga, dapat dikembangkan: ikan beku — fillet — loin — steak — seafood frozen — produk siap masak — produk olahan.
Setiap tahap memberikan kemungkinan tambahan nilai ekonomi.
Penelitian KKP juga menunjukkan bahwa penerapan rantai dingin yang konsisten dapat membantu mempertahankan kesegaran, tekstur dan keamanan produk sekaligus memperkuat daya saing industri pengolahan.
H. Pelabuhanratu Membutuhkan “Fish-to-Market Intelligence”
Menurut saya, tahap berikutnya bukan hanya membangun fasilitas fisik.
Sukabumi perlu membangun Digital Fisheries & Cold Chain Intelligence System.
Sistem tersebut dapat memonitor: hasil tangkapan — jenis ikan — volume — lokasi pendaratan — suhu — stok cold storage — permintaan pasar — harga — distribusi.
- Sensor IoT dapat digunakan untuk memantau temperatur.
- QR code dapat digunakan untuk telusuran.
- GIS dapat memetakan sentra produksi dan jalur distribusi.
- AI dapat membantu memperkirakan permintaan, pola pasokan dan kebutuhan kapasitas penyimpanan.
Dengan demikian, cold chain berubah dari sekadar fasilitas menjadi data -driven fisheries supply chain.
I. Jangan Melupakan Nelayan Kecil
Cold chain harus memberikan manfaat kepada nelayan kecil, bukan hanya perusahaan besar.
Karena itu diperlukan ekosistem sirkular ekonomi seperti:
- shared cold storage,
- shared ice plant,
- koperasi pemasaran,
- kontrak pembelian,
- pembiayaan usaha,
- pelatihan mutu
- akses pasar digital.
Nelayan harus tetap menjadi bagian penting dari rantai nilai.
Jika nilai tambah hanya dinikmati oleh industri hilir, maka pembangunan cold chain belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan kesejahteraan masyarakat pesisir.
J. Menuju Blue Economy Sukabumi
- Penguatan cold chain merupakan bagian dari ekonomi biru.
- Laut tidak hanya menyediakan ikan.
- Laut menyediakan lapangan kerja, pangan, industri, perdagangan dan berbagai aktivitas ekonomi.
Tetapi eksploitasi harus diimbangi dengan keberlanjutan sumber daya. Karena itu, prinsipnya harus: ikan ditangkap secara bertanggung jawab — mutunya dijaga — diolah — nilai tambah meningkat — limbah dikelola — ekosistem laut tetap sehat.
K. Penutup
Kabupaten Sukabumi tidak kekurangan ikan.
Yang harus kita bangun adalah sistem agar ikan tersebut menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat tanpa merusak sumber daya lautnya.
Cold chain merupakan salah satu mata rantai penting dalam proses tersebut.
Dari: NELAYAN — IKAN — COLD CHAIN — INDUSTRI — PASAR — NILAI TAMBAH — KESEJAHTERAAN
Maka pembangunan cold chain di pesisir Sukabumi jangan dilihat sebagai sekadar proyek pembangunan gudang pendingin.
Cold chain adalah infrastruktur ekonomi.
Ia dapat memperkuat posisi tawar nelayan, menjaga mutu pangan, mengurangi kehilangan pascapanen, membuka industri pengolahan dan memperluas pasar.
Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi perikanan Sukabumi tidak hanya diukur dari berapa ton ikan yang ditangkap, tetapi dari:
- Berapa besar nilai tambah yang tercipta, berapa banyak yang tinggal di daerah, dan berapa besar manfaat yang kembali kepada masyarakat nelayan.
- Laut Sukabumi harus menghasilkan ikan yang berkualitas, industri yang berdaya saing, dan masyarakat pesisir yang semakin sejahtera.
