SUKABUMISATU.com — Bagi kebanyakan anak, masa kecil dihabiskan di bawah atap rumah dan dalam hangatnya dekapan keluarga. Namun bagi Ajeng Kholifah, santriwati asal Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, jalan hidupnya telah terpatri berbeda sejak ia masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Saat anak seusianya masih bermanja, Ajeng sudah memeluk kehidupan pesantren, melangkah jauh dari rumah demi meniti jalan keilmuan.
Tiga belas tahun berlalu. Perjalanan panjang berpindah dari satu bilik santri ke bilik lainnya tidak hanya membentuk karakter dan kedalaman ilmunya, tetapi juga membuka gerbang panggung internasional. Ajeng, yang kini duduk di semester 3 perguruan tinggi, bersiap melangkah ke tiga negara ASEAN lewat ajang International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 7.
Tiga Pesantren, Tiga Pilar Keilmuan
Kisah keteguhan Ajeng ditempa melalui tiga lingkungan pendidikan berkarakter kuat. Langkah awalnya bermula di PPH Ummul Qura Bogor, tempat ia meletakkan hafalan Al-Qur’an dan tahfiz sebagai fondasi spiritual utama.
Perjalanan itu berlanjut ke Yayasan/SMPIT Al-Atiqqiyyah. Di lingkungan boarding school ini, potensi bahasanya diasah, keberanian komunikasinya dipupuk, serta mentalitas untuk menyampaikan gagasan di hadapan publik mulai terbentuk.
Muara penempaan keilmuan pesantrennya berlabuh di Pondok Pesantren Miftahul Huda Pusat Tasikmalaya. Di pesantren berakar tradisi kitab kuning yang kuat ini, Ajeng mendalami fikih, tradisi Bahtsul Masail, hingga menuntaskan simaan 1.002 bait Nazham Alfiyyah Ibnu Malik, Matan Jauhar Tauhid, Rohbiyyah, serta Mantiq. Pengetahuan keagamaannya makin kokoh setelah menyelesaikan Daurah Al-Qur’an bersanad dari Syekh Jamil Thohir Yamani.
“Al-Qur’an menjadi fondasi, bahasa sebagai jembatan komunikasi, dan kitab kuning adalah pintu untuk memahami khazanah keilmuan pesantren,” tutur putri daerah asal Lengkong ini saat diwawancara sukabumisatu.com. Jumat, (02/10/2026).
Jejak Tempaan Diri dan Prestasi
Bagi Ajeng, pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu keagamaan, melainkan kawah candradimuka yang membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan kesabaran. Di luar bilik pengajian, keaktifannya berbuah deretan prestasi di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, akademis, seni, hingga olahraga.
Sederet pencapaian pernah ditorehkannya, seperti Juara 1 Kaligrafi Tingkat Kecamatan, Juara 1 Pidato Event Muharam, Juara 1 MHQ, Juara 1 Melukis Event Maulid, Juara 1 Badminton Antar Himpunan Daerah, hingga Juara 2 Cerdas Cermat pada 2026. Namun baginya, trofi-trofi tersebut hanyalah cermin kecil dari panjangnya proses yang telah ia lalui.
Membawa Misi Santri ke Panggung Global
Buah manis dari 13 tahun kelana santri itu akhirnya mengetuk pintu masa depannya. Melalui surat keputusan seleksi bertanggal 15 September 2026, Ajeng resmi dinyatakan lulus sebagai peserta ICSM Batch 7 yang akan digelar pada 25–30 November 2026 mendatang di tiga negara: Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Program ICSM menjadi wadah strategis baginya untuk menjalankan misi diplomasi budaya, mengenalkan nilai-nilai Islam Nusantara yang moderat dan inklusif, serta memperkuat jejaring pemuda di tingkat internasional.
“ICSM menjadi kesempatan bagi saya untuk membawa pengalaman pesantren ke ruang global, belajar dari keberagaman perspektif, membangun jejaring, serta menunjukkan bahwa santri mampu berkomunikasi, berkolaborasi, berprestasi, dan berkontribusi,” ujar Ajeng.
Dari sudut Kecamatan Lengkong, Ajeng Kholifah kini bersiap mengarungi babak baru. Bekal hafalan Al-Qur’an, penguasaan bahasa, dan kedalaman tradisi kitab kuning yang dipelajarinya belasan tahun menjadi identitas yang siap ia bawakan di hadapan dunia. Perjalanan internasionalnya di akhir tahun nanti bukanlah awal, melainkan buah dari langkah berani seorang anak kelas 2 SD yang berani belajar jauh dari rumah.
Reporter: Arismanto












