SUKABUMISATU.com – Sebuah video duel antar pelajar SMP di Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, kembali memantik perhatian publik. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan sejumlah pelajar adu jotos di jalur desa sepi yang menghubungkan Kampung Pasirbalay menuju Kampung Pamoyanan hingga Lapang Badak Putih, Desa Jagamukti.
Duel tersebut berlangsung dua hari berturut, 25 dan 26 September 2025. Informasi yang dihimpun, pemicu aksi ini hanyalah persoalan almamater berbeda.
Dalam video klarifikasi yang beredar, Kepala sekolah, Lindawati, mengakui bahwa kejadian itu benar melibatkan anak didiknya. Ia menegaskan kasus sudah ditangani dengan pemanggilan siswa, orang tua, serta koordinasi bersama kepolisian setempat. Para pelajar yang terlibat juga diminta membuat surat pernyataan dan diberi pembinaan agar tidak mengulangi perbuatannya.
Namun, langkah penyelesaian internal ini memunculkan sejumlah pertanyaan. Apakah cukup hanya dengan pembinaan lisan dan surat pernyataan, sementara duel antar pelajar sudah terjadi berulang dan viral? Sejauh mana keterlibatan Dinas Pendidikan dalam mengawasi kasus ini?
Kritik juga muncul terkait minimnya upaya pencegahan. Hingga kini, belum terdengar adanya rencana konkret dari pihak sekolah maupun pemerintah setempat untuk mengantisipasi konflik serupa, baik melalui konseling psikologis, edukasi resolusi konflik, maupun forum bersama antar sekolah.
Publik menilai kasus ini tak bisa dianggap selesai begitu saja. “Kalau hanya pembinaan tanpa program lanjutan, besar kemungkinan akan terulang lagi. Ini bukan sekadar salah anak, tapi juga lemahnya sistem pengawasan sekolah,” ujar salah satu tokoh masyarakat Surade yang enggan disebutkan namanya.
Kasus duel pelajar di Surade ini menjadi cermin darurat moral generasi muda di Sukabumi. Pembinaan memang penting, tetapi tanpa langkah nyata pencegahan dan evaluasi sistem pendidikan, tragedi serupa tinggal menunggu waktu untuk kembali terjadi.
